Jumat, 27 Juni 2014

Essay Mendaftar Pengajar Muda VIII Indonesia Mengajar



Foto Pengajar Muda VIII


          Ini adalah Essay yang saya kirimkan sat mendaftar sebagai Pengajar Muda VIII Indonesia Mengajar, dan alhamdulillah saya diterima dalam rekruitasi ini. Tetapi essay ini tidak lengkap, jadi jika ingin mendapatkan versi lengkapnya, silahkan hubungi saya via
email: mcatursaifudin@gmail.com atau twitter @catur_ms


Pengalaman Organisasi Dalam kampus dan Kontribusi Terbesar yang Anda Berikan?

Pengalaman selama menjadi Menteri Pengabdian Masyarakat BEM IT Telkom 2010
Sejak BEM lahir hingga 2009, setiap terjadi bencana UKM/Ormawa di IT Telkom bergerak sendiri-sendiri untuk membantu. Untuk memberikan dampak yang lebih besar, saat di BEM 2010 saya mengumpulkan kawan-kawan Korps Sukarela (KSR) PMI ITT dan Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam IT Telkom (Astacala) untuk membicarakan fenomena bencana dan kontribusi mahasiswa ITT. Saat itulah dicetuskan Badan Tanggap Bencana IT Telkom dan dibuatlah Standard Operational Procedure (SOP) dengan pembagian BEM pada tataran pencarian dana dan hubungan ke rektorat untuk Astacala dan KSR pada tataran teknis. Selama 2010, BTB telah membantu tenaga relawan, dana, dan juga logistik di bencana Mentawai, Merapi, dan banjir Dayeuhkolot.

Pengalaman selama menjadi  Kepala HRD BEM IT Telkom 2012
HRD fokus penjagaan dan pengembangan  SDM, selama di BEM, kegiatan yang dilakukan oleh HRD hanya berfokus pada pengembangan pengetahuan dan keakraban saja. Menurut saya seorang pengurus BEM juga harus memiliki ketangguhan dan grass root understanding tinggi, karena mereka akan menghadapi banyak tantangan dan mereka adalah pemimpin yang punya rakyat. Untuk ketangguhan, saya memberikan ide mengadakan long march selama 6jam sebagai bekal sebelum menjadi pengurus BEM. Untuk grass root understanding, saya memberikan ide mengadakan BEM Changemaker, program menginap,beraktifitas,dan berkontribusi di desa terpencil. Dengan harapan bahwa mereka telah melewati hal sulit ini,sehingga di BEM mereka tidak mengeluh tapi bersyukur atas suatu kondisi.

Pengalaman saat menjadi Dewan Pengurus Astacala
Astacala memiliki standar operasional procedure berkegiatan alam bebas yang aman. Banyak sisi positif yang tidak terekspos organisasi ini,sosmed mati dipegang senior yang tidak dikampus. Saya baru saja menjadi Dewan Pengurus 2013 berinisiatif menghidupkan dan menjadikan Astacala lebih terbuka dengan menjadi admin Facebook,Twitter,dan Youtube. Di akun ini, saya berusaha berbagi dan mengajak Astacalaers untuk terlibat sharing ke publik tentang aktifitas organisasi dan ilmu alam bebas seperti safety procedure,Navigasi Darat, Fotografi,dll. Masyarakat kampus dan luar kampus mendapat banyak informasi tentang kegiatan Astacala dan ilmu berkegiatan alam bebas,banyak orang yang share dan retweet, bahkan sekali posting yang melihat postingan itu bisa sampai 1000.

Selain itu ada juga :

Pengalaman Organisasi Luar kampus dan Kontribusi Terbesar yang Anda Berikan?

Pengalaman Kepanitiaan dan Kontribusi Terbesar yang Anda Berikan? 

Untuk dua pertanyaan ini ada di essay lengkap saya, kalau mau, silahkan email saya ya. :)

Lalu, ada beberapa essay lagi, ini beberapa diantaranya: 

Pin Pengajar Muda VIII

Apa motivasi Anda bergabung menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar?
Menjadi orang terdepan di barisan terdepan suatu perjuangan! Hal itulah yang menjadi tekad saya dalam menjalani kehidupan. Hal itu adalah kombinasi dari pembacan medan, pembacaan potensi diri, kontribusi, dan tentu saja tekad untuk menjadi lebih baik lagi!
Pertama kali mendapat informasi IM ini pada 2010, saya saat itu mendapat informasi lewat link dari teman, akhirnya saya mendownload beberapa video tentang IM dan membuat sebuah playlist dengan judul, “My Dream” dan saya sering mendengarkannya ketika melakukan aktifitas yang menggunakan laptop.
Tekad turun tangan sebagai PM ini semakin bulat pasca megikuti Ekspedisi Astacala 2013. Ketika Ekspedisi sekitar 3minggu di Malaysia, saya tinggal dan hidup bersama TKI, merasakan kerasnya hidup mereka. Mereka kerja disini bukan enak tapi berat, baik dari sisi pekerjaan seperti angkut pasir yang beratnya hampir 60Kg, juga berat meninggalkan orang tua, anak, dan istri dirumah. Ternyata hal itu malah menjadi masalah lain beberapa ada yang melakukan perselingkuhan dengan wanita setempat ada yang berakhir bercerai ada juga yang tidak ketahuan, belum lagi terpengaruh minuman dan judi yang tidak mereka lakukan di Indonesia. Saya menemukan fakta bahwa mayoritas TKI adalah anak daerah yang awalnya tidak mengetahui hingar bingar perkotaan, disitu saya berfikir bahwa anak-anak daerah harus melakukan lompatan-lompatan kehidupan dengan jalur melaksanakan tahapan pendidikan agar hidupnya lebih sukses dan bermakna di negara mereka sendiri,sehingga tidak perlu menjadi TKI.

Hal itulah yang mendorong saya untuk mendaftar PM, karena saya ingin membantu adik-adik melakukan lompatan-lompatan kehidupan dengan cara mengajar.

Mengajar memang telah memiliki tempat tersendiri dalam hidup saya, selain karena background kuat keluarga saya tapi pengalaman pribadi yang telah membentuk seperti sekarang ini karena mengajar, mengajar telah memberikan saya tekad untuk terus berusaha menjadi lebih baik! Saya juga ingin menularkan semangat ini, semangat untuk mengajar dan berbagi kepada orang lain! Dan saya yakin bahwa di setiap senyum tambahan ilmu adik-adik itu ada pahala yang akan terus mengalir.

Dalam kehidupan kita ada hal yang menjadi pemberian dan ada pula yang pilihan. 

Dilahirkan di keluarga yang tinggal di desa-desa terpencil adalah Pemberian Tuhan, tapi bagaimana mereka hidup setelah itu adalah suatu pilihan. Saya ingin turut membantu adik-adik dalam melewati keterbatasan mereka seperti biaya, keberanian bermimpi untuk berpendidikan tinggi, pergi ke luar negeri, dan berbagai keterbatasan lain hingga pada akhirnya mereka bisa melakukan lompatan-lompatan kehidupan melalui jalur Pendidikan, dengan cara Mengajar.
Sekali dapat melakukan lompatan kehidupan, hal ini akan banyak menginpirasi mereka untuk melakukan lompatan kehidupan yang lain. Kemampuan mereka dalam melakukan lompatan kehidupan akan berdampak bukan hanya pada diri mereka sendiri, tetapi juga pada orang tua, guru, masyarakat setempat, Dinas Pendidikan, dan bahkan saudara-saudara diluar sana yang jauh lebih beruntung dari mereka, hal itu akan menjadi pesan optimisme Negeri ini, bahwa saat ini sedang banyak anak-anak negeri yang sedang berproses dan siap memberikan kejayaan pada Bangsa ini! Dan ketika mereka berhasil melakukan lompatan itu, hal itu akan memberikan kebahagiaan bagi saya, kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Selain mentransfer semangat mengajar dan membantu adik-adik dalam melakukan lompatan kehidupan, hal yang juga sangat memotivasi saya untuk mendaftar Pengajar Muda adalah kesempatan belajar tentang banyak hal dan hal ini juga akan menunjang tekad saya untuk menjadi Pengusaha dan pemegang kebijakan.
IM sejatinya memiliki dua track utama, pertama mengisi kekurangan guru SD yang selama ini memang sangat kurang dan kedua adalah mempersiapkan future leaders yang memiliki world class competence and grass root understanding.
Dengan target perubahan yang jelas dan manajerial yang baik, hal ini semakin memaksimalkan proses belajar para PM. Belajar tentang kepemimpinan menghadapi dan mendampingi anak-anak, belajar tentang tatanan, budaya, dan struktur masyarakat, belajar untuk melakukan perubahan di masyarakat. Adalah suatu penghormatan bagi saya apabila diberikan kesempatan belajar tentang berbagai hal ini lewat Indonesia Mengajar.


Ceritakan pengalaman anda ketika berusaha mencapai kesepakatan dalam situasi yang sulit di organisasi/pekerjaan.
Selain mencapai kesepakatan sulit ketika mendaftar PM, ada cerita tentang kronologis Deklarasi Norma Kehidupan Bermasyarakat di lingkungan Yayasan Pendidikan Telkom (YPT).
YPT adalah yayasan pendidikan dibawah PT Telkom yang membawahi empat kampus, IT Telkom, IM Telkom, Politeknik Telkom,dan STISI Telkom. Cerita itu berawal dari kebijakan baru YPT pertengahan 2009 untuk menempatkan seluruh kampus ke Dayeuhkolot. ITT sudah di Dayeuhkolot sejak 1993, Politeknik berdiri pada 2008 di Dayeuhkolot, dan IMT angkatan baru 2010 sudah di Dayeuhkolot, STISI Telkom belum ada kabar akan pindah.
Permasalahan sosial mulai muncul, budaya kampus yang berbeda memberikan dampak pada perubahan budaya masyarakat setempat terutama anak kecil dan remaja. Makin marak pencurian laptop, kosan campur laki-laki dan perempuan semakin banyak, tengah malam banyak terdengar kebisingan dari candaan atau suara musik mahasiswa, dan berujung pada Ketua RW dan aparatnya mempergoki pasangan mahasiswa yang (mohon maaf) sedang telanjang dikamar.
Menurut saya, yang saat itu menjabat menteri Pengabdian Masyarakat BEM 2010,dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung dan ketika budaya setempat tergeser maka senyatanya hal itu adalah sebuah masalah. Sehingga perlu dibuat aturan untuk menciptakan kehidupan sosial bermasyarakat yang damai, santun,tertib,aman,dan nyaman.
Maret 2010,saya mengadakan Silaturahim dan Forum Diskusi untuk membuat peraturan kosan yang mempertemukan mahasiswa&UKM se-ITTelkom, ketua RT/RW dan rektorat. Ternyata beberapa mahasiswa umum dan pengurus BEM diluar kementrian PengMasy mempertanyakan peraturan ini terutama jam malam. Saya menyayangkan sikap pengurus, karena ketika pemaparan Program Kerja (proker) sudah disampaikan rencana kegiatan ini. Saat itu, BEM berada di posisi sulit, disatu sisi muncul tekanan dari mahasiswa dan disisi lain muncul tekanan dari masyarakat untuk segera mengesahkan peraturan.
Pertemuan selesai, belum satunya suara membuat pertemuan deadlock. Saat itu Presiden Mahasiswa menyerahkan ke saya tentang apa yang akan dilakukan selanjutnya. Bagi saya, pantang mundur hanya karena tekanan, kami berusaha menuntaskan apa yang sudah dimulai.
Keesokan harinya, saya dan staf mengevaluasi pertemuan semalam. Kami berkesimpulan bahwa perlu ada diskusi berlevel dan terpisah agar lebih mudah mencapai kesepakatan, setelah semua sepakat barulah dilakukan penandatangan deklarasi. Satu hal yang penting adalah kami tidak dapat bekerja sendirian tapi perlu mengajak stakeholder untuk bersama-sama menyelesaikan ini.
BEM 2010 baru berjalan 2 bulan, masih banyak mimpi kami yang belum terwujud. Saya meminta rekan-rekan untuk tetap fokus pada proker lain sesuai PJ-nya, perturan kosan ini biarkan menjadi tanggung jawab saya.
Saya membuat jadwal diskusi level BEM,KBM,dan Institusi, setelah itu barulah ke BEM kampus lain. Dikusi level BEM awalnya dikira akan muncul konfik ternyata lancar. Sebelum diskusi KBM, kami membuat propaganda tentang kondisi sekitar kampus dan urgensi peraturan . Diskusi level KBM dilakukan dan alhamdulillah lancar, diskusi institusi juga berjalan lancar,bahkan WaRek I membantu memperbaiki redaksionalnya dan menjanjikan akan menyelenggarakan pertemuan untuk mendeklarasikannya.
Saya berkunjung ke BEM Politeknik, mereka juga sepakat. Saya ke BEM IMT, diskusi cukup alot, perbedaan budaya kampus manajemen dengan teknik membuat mereka banyak mempertanyakan hal ini terutama jam malam, terkait poin lain seperti keamanan mereka sepakat. Tetap deadlock, saya meminta bertemu PresMa IMT,dia lebih bisa mengerti,Alhamdulillah BEM 3kampus telah sepakat.
Setelah semua sepakat, saya mengatakan ke institusi dan sesuai janji mereka, pertemuan antara 3BEM, 3Kepala Desa, 3Rektorat, YPT, dan Ketua RW untuk penandatanganan akan diadakan dan undangannya ditandatangani langsung oleh Rektor ITT. Norma Kehidupan Masyarakat telah resmi dideklarasikan pada 26 November’10. Masa kepengurusan saya di BEM berakhir, saya berusaha mentransfer informasi kepada menteri yang baru tentang Norma ini dan beberapa rencana menegakkannya. Sosialisasi telah dilakukan dengan cara menempelkan Norma di banyak kosan sekitar kampus. Tapi sayang perbedaan fokus isu kementrian ditiap tahunnya membuat penegakan ini kurang berjalan. Tapi paling tidak, dengan ditempelnya Norma itu semua mahasiswa sekitar kampus tahu mana yang melanggar dan tidak. Saya masih sangat berharap suatu saat nanti kondisi sekitar kampus menjadi kondusif dan nyaman.Amin

Ceritakan kekecewaan terbesar anda dan bagaimana anda mengelolanya.
Pengalaman itu terjadi ketika saya baru saja menjadi seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP), masa labil bagi saya, masa menemukan identitas diri, masa belum bisa memilah mana yang baik dan buruk? Saya awalnya bersekolah di Sekolah Dasar (SD) pinggiran kota, saat SMP saya bersekolah di sekolah tengah kota. Saya berada di kelas yang banyak anak nakalnya. Hal ini berdampak pada psikologis saya, saya menjadi anak SMP yang berusaha keren, merasa dewasa,dan merasa gaul.
Saya duduk di barisan pojok bersama kawan-kawan yang setipe, saat itu sama-sama nakal. Saya datang di pagi hari dan berada di pojok sekolah untuk merokok, beberapa kali membolos dengan cara naik pagar. Di tahun baru saya bersama kawan-kawan pergi nonton konser dan sebelum pergi kesana rekan-rekan saya minum-minuman keras terlebih dahulu, tapi saya tidak mau minum dan hanya merokok. Saya juga berkelahi di sekolah, kawan saya biasa mengistilahkan “senggol bacok!” Saat memiliki adik kelas, saya biasa memintai mereka uang. Dan yang menurut saya paling parah adalah saat itu saya sering melecehkan wanita (mohon maaf tidak bisa disebutkan).
Saya melakukan semua itu selama satu setengah tahun, beruntung saya masih naik kelas. Hal ini tentu saja berdampak pada nilai raport, saya yang ketika SD berprestasi tiba-tiba nilai SMP sangat jatuh sejatuh-jatuhnya. Pasca menerima raport semester3, saya sangat kaget menerima itu semua. Orang tua saya yang berlatar belakang pendidikan ternyata tidak menegur saya tapi juga tidak mengatakan apa-apa, sikap itulah yang semakin menyayat hati saya.
Kakak pertama baru saja menyelesaikan sarjananya dan sedang dirumah, kakak sayalah yang mencoba mengajak bicara pelan-pelan. Beliau bertanya tentang alasan hal ini terjadi, saya diam dan kakak saya memotivasi saya dengan mengatakan “Ayo dek! Kamu gak pengen nyenengin orang tua?” Hal itu terus terngiang-ngiang di otak saya, dan saat itu saya bertekad untuk ingin terus membahagiakan dan membanggakan kedua orang tua.
Saya memulai langkah pertama perbaikan dengan memasang target “Masuk 10 besar di kelas pada semester depan!”
Saya mulai membiasakan untuk belajar, mulai rajin sholat, mulai meninggalkan rokok, dan ikatan dengan kawan-kawan awal SMP juga sedikit saya renggangkan dan mencoba menjalin persahabatan dengan kawan yang lain. Sering saya mendapat ajakan kawan, “Tur, ayo ke Bu Bas (tempat biasa merokok)” saya mengatakan, “Duluan saja!” Ketika Ujian Akhir Sekolah (UAS) di semester 4 saya sudah tidak mau menyontek dan ingin menggapai 10 besar itu dengan usaha sendiri! Beberapa hari menjelang pembagian raport, saya merasa khawatir tidak bisa meraihnya. Selesai sholat Ashar, saya berdo’a dan tiba-tiba meneteskan air mata, itulah pertama kali saya meneteskan air mata ketika berdo’a.
Hari penerimaan raport tiba, saya menunggu dengan cemas, setelah dikasih tahu, ternyata saya mendapatkan rangking 10 di kelas. Betapa bersyukurnya saya saat itu, karena telah berhasil mendapatkan apa yang diimpikan.
Dengan tekad ingin terus membahagiakan dan membanggakan kedua orang tua, saya masih terus berusaha melakukan yang terbaik, terus berporses menjadi lebih baik lagi.
Akhirnya saat Sekolah Menengah Atas (SMA) saya mengusahakan untuk masuk di Kelas Unggulan agar tidak dikenakan biaya sekolah, dan alhamdulillah saya masuk di kelas itu selama 3tahun.
Hal baik itu terus berlanjut hingga kuliah, saya masih terus berproses melakukan berbagai hal hingga pada akhirnya melihat keluarga saya belum pernah ada yang keluar negeri, maka saya bertekad untuk Go International pada 2013! Dan Alhamdulillah dengan dana sponsor bukan dana orang tua, saya berhasil mengikuti konferensi Mahasiswa Internasional di Jerman.
Saat lebaran 2013 ini, ibu dengan bangga mengatakan kepada saudara yang datang bahwa anaknya baru saja dari Jerman. Saya hampir tidak bisa menahan air mata saat mendengar itu.
Saat itu saya memahami bahwa masa-masa hidup yang sulit akan merubah kita sedikit demi sedikit, ketika konsisten pada perubahan itu, kita akan menemukan bahwa semua akan Indah pada saatnya!



Selain ini, juga ada beberapa essay yang harus dilengkapi, jika tertarik, hubungi via email atau twitter saja ya. Saya juga membuat video profil saya untuk menambah gambaran tentang diri saya.
Semoga bermanfaat. ;)

Tentang Sebuah Kota Kecil yang Bernama Bario



Kalimat Sambutan di Bandara Bario, Kelabit Highland, Sarawak, Malaysia
Bario, sebuah kota kecil terletak di Negara Jiran Malaysia yang berbatasan langsung dengan Indonesia di pulau Kalimantan. Bario terletak di pedalaman daerah Baram di bagian keempat dan daerah Limbang dibagian kelima Serawak. Untuk menuju tempat ini perlu menggunakan pesawat twin otter dari Miri, Serawak, Malaysia.
Berdasarkan paparan narasumber, Bario berasal dari bahasa Kelabit yang terdiri dari dua kata yaitu Ba yang berarti Basah dan Riew dan angin, hal ini bisa dirasakan ketika dipagi hari saat angin berhembus membawa embun air. Bario terletak pada ketinggian kira–kira 3350 kaki dari permukaan laut menjadikannya dingin selalu. Bario terdiri dari 13 daerah, yaitu Kampung Baru, Kampung Padang Pasir, Kampung Pa’Ramapuh Atas, Kampung Pa’Ramapuh Bawah, Kampung Ulung Palang Atas, Kampung Ulung Palang Bawah, Kampung Pa’ Ukat, Kampung Pa’Umor, Kampung Arur Layun, Kampung Bario Asal, Kampung Arur Dalan, Kampung Pa’ Derung, dan Kampung Pa’ Lungan.
Peta Bario
 Data tahun 2012 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Bario sebesar 1011 dengan mayoritas adalah penduduk asli yaitu Suku Dayak Kelabit yang tinggal di kawasan pedalaman dan hulu-hulu sungai. Suku ini masih satu rumpun degan Suku Dayak yang berada di Pulau Kalimantan, sehingga masih banyak orang keturunan Indonesia yang berada disana. Dari segi etnis, penduduk Bario sangatlah plural, penduduk terbanyak kedua di wilayah ini adalah orang Indonesia yang datang untuk bekerja disana. Selain bekerja, banyak orang Indonesia yang pada akhirnya berkeluarga disana dan menjadi Warga Negara Malaysia. Selain itu juga ada etnis Tionghoa yang tinggal di daerah ini. Bario menjadi salah satu kunjungan para wisatawan asing terutama eropa karena kondisi alamnya yang masih asli, beberapa negara tersebut adalah Inggris, Swiss, Perancis, dll karena betah berada disini, akhirnya mereka tinggal dan menjadi Warga Negara Malaysia, selain itu juga ada beberapa warga asing tersebut yang tinggal disana karena menjalankan proyek “Community Development Project” sebuah proyek perkembangan masyarakat desa yang dibuat oleh pemerintah Malaysia dan dilakukan oleh Tim dari berbagai negara. Melayu adalah suku minoritas di wilayah ini, mereka umumnya adalah aparat pemerintah yang ditugaskan disini seperti polisi, petugas Imigrasi, tenaga bantu kesehatan, tentara, ataupun guru.
Berada di daerah yang masih sangat alami, mayoritas penduduk Bario adalah Petani khususnya padi dengan sistem alami, daerah ini memliki beras cukup terkenal yaitu Beras Bario yang ukurannya lebih besar dari beras biasa, untuk semakin meningkatkan produksi padinya, pemerintah memiliki kebijakan untuk perluasan lahan pertanian dan pembuatan sistem irigasi di beberapa daerah terpencil Serawak, termasuk Bario. Mata pencaharian terbesar kedua Bario adalah pedagang, membuka kedai (toko/warung-red) yang didalamnya menjual makanan atau kebutuan sehari-hari. Selain itu, penduduk disana juga berdagang pasir dan batu yang memang sangat melimpah disana, batu dan pasir itu biasanya digunakan untuk membuat jalan. Salah satu kebiasaan penduduk Suku Dayak Kelabit yang masih bertahan sampai sekarang dan menjadi mata pencaharian adalah beternak dan berburu. Umumnya penduduk disini beternak ikan dengan membuat kolam baik itu disamping rumah ataupun di sawah. Untuk berburu, hewan yang biasanya diburu adalah rusa, kijang, dan beberapa hewan hutan lain. Hewan yang didapat dari beternak ataupun diburu biasanya dijual kepada kawan-kawan sendiri, karena memang tidak sedikit yang mencari hewan-hewan tersebut untuk dikonsumsi. Selain itu, ada juga beberapa minoritas masyarakat yang menjadi Agensi Kerajaan Serawak (Pegawai Negeri Sipil-red).
Bario saat ini memang sedang dalam proses pembangunan selain dilihat dari mulai berkembangnya sektor pertanian juga dapat dilihat dari ketersediaan tenaga kesehatan berupa klinik yang standar dengan kota-kota besar di Serawak. Tenaga kesehatan yang ada disana adalah 1 orang dokter umum, 2 orang pembantu dokter, 1 orang koordinator perawat, 1 orang farmasi, 4 orang perawat masyarakat, 1 orang bidang kesehatan masyarakat, 2 orang attendor, dan 1 orang supir. Hal ini cukup beralasan, karena untuk menunjang proses kemajuan di Bario ditopang dengan faktor kesehatan agar warga masyarakat mulai memperdulikan kesehatan dengan penyediaan tenaga kesehatan yang standar kota besar.
Sebuah harmoni antara masyarakat dan kampus terlihat ditempat ini, hal yang sangat terlihat adalah adanya e-bario, ini adalah sebuah riset dari Universitas Serawak Malaysia (UNIMAS) dalam penyediaan akses informasi di beberapa daerah terpencil yang awalnya hanya menggunakan telepon koin, selain di Bario riset ini sebenarnya juga dilakukan di Bakelalan, Lun Lambai, Lun Bawang. e-Bario dibentuk sekitar 14tahun yang lalu. Ada dua hal utama yang difokuskan yaitu penyediaan akses internet dan komunikasi radio, untuk akses internet menggunakan teknologi VSAT (Very Small Aperture Terminals), sedangkan untuk komunikasi radio dibuatlah studio lengkap dengan pemancar dan berbagai perlengkapan lengkap terkait studio radio juga alokasi frekeunsi.Berkat keproduktifannya, e-Bario telah mendapatkan beberapa penghargaan baik dalam maupun luar negeri. Seperti pada proyek sosial yang mengalami dinamika aktifitas, e-Bario juga mengalaminya, sejak 6bulan yang lalu terjadi kevakuman kegiatan di tempat ini karena tidak adanya yang mengurusi hal teknis, hal itu mengakibatkan UNIMAS mengancam jika tempat ini tidak ada yang mengurusi maka seluruh barang disini akan diambil kembali oleh UNIMAS dan pada akhirnya datang Mr. Las dari daratan Eropa yang awalnya datang ke Bario untuk melancong dan ternyata berkenan menjadi relawan untuk memberikan tenaga, waktu, dan fikirannya mengurusi tempat ini.
Hal yang sangat unik dari Bario adalah tentang faktor terbesar kemajuan daerah ini, penduduk Bario adalah raja di tanahnya sendiri, karena mereka menjadi pemilik modal yang memperkerjakan para pendatang bahkan pendatang dari luar Bario yang masih di lingkungan Serawak. Hal tersebut didukung beberapa hal, yang pertama adalah kebijakan Pemerintah, dimana ada kebijakan dalam pembangunan usaha apapun perlu menggunakan IC (Identity Card) untuk menyatakan kartu identitas kewarganegaraan Malaysia, kedua adalah kebijakan kepala adat setempat yang masih punya pengaruh dalam proses perwujudan kesejahteraan masyarakat dengan pengaturan kehidupan bermasyarakat, dan yang ketiga adalah banyaknya warga asli Bario yang menjadi pejabat publik, salah satunya adalah Kepala Imigrasi Serawak, hal ini memberikan dampak fast response ketika terjadi permasalahan atau proses pembangunan Bario, tidak jarang masyarakat Bario memberikan komplain tentang sesuatu pekerjaan atau personel pejabat pemerintah disini dan segera ditindak. Hal ini pula yang membuat begitu banyak warga asing yang tinggal di Bario dengan tidak legal (tanpa surat-surat) tapi tetap dibiarkan oleh polisi atau petugas imigrasi karena warga Bario membutuhkan warga asing tersebut untuk dipekerjakan dan hal ini didukung oleh kepala adat dan pejabat publik yang pro dengan keinginan masyarakat Bario.


Persahabatanku dengan Dunia Menggambar


Catur, itu nama panggilan yang biasa teman-teman sematkan kepadaku. Dihari pertama masuk Sekolah Dasar (SD) pada tahun 1996, saya yang tidak bersekolahdi Taman Kanak-kanak (TK), diminta untuk menggambar sesuatu, sempat bengong beberapa saatkarena bingung akan menggambar apa? Tidak punya latar belakang menggambar sekali, wajah pucat, tampak begitu stress ketika diminta menggambar. Akhirnya saya memutuskan untuk menggambar hal yang menurut saya sederhana, Bungkus R*kok, sebuah kotak yang diwarnai merah dan diberi tulisan merk, itu adalah gambar pertama saya yang sangat sederhana di sekolah formal. Pasca itu, kegiatan menggambar selalu menjadi sebuah beban tersendiri bagi saya, sehingga banyak menghindari kegiatan menggambar bahkan hingga menginjakkan kaki di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ataupun Sekolah Menengah Atas (SMA), ketika kuliahpun tidak ada aktifitas yang berhubungan dengan menggambar kreatif, hal itu memberi kesan bahwa “Saya tidak bisa dan tidak berbakat menggambar.”
Ketika mulai masuk Pelatihan Calon Pengajar Muda VIII Indonesia Mengajar, menggambar menjadi hal yang sangat umum dilakukan, untuk mengilustrasikan ide, solusi atas sebuah pernasalahan, dll.Saya menyadari bahwa, menggambar akan menjadi kebutuhan yang cukup penting selama setahun kedepan ketika penugasan di daerah, dan sudah seharusnya juga berhenti untuk terus menghindar. Saya mulai bersahabat dengan dunia menggambar, senantiasa berusaha terlibat dalam menggambar, baik dengan mewarnai ataupun menggambar hal yang sederhana.
Pada minggu ketiga pelatihan Calon Pengajar Muda VIII Indonesia Mengajar, kegiatan berfokus kepada metode belajar kreatif dimana kegiatan yang dilakukan banyak berkaitan dengan dunia menggambar.Berujung pada saat materi tematik, kelompok dibagi menjadi dua orang, dimana saya mendapat bagian untuk menggambar Big Book. Kami berdua diminta untuk menggambar, sehingga tidak ada pilihan lagi bahwa saya memang harus menggambar. Di titik itu, saya berusaha membebaskan diri  untuk menggambar dan menikmati prosesnya. Secara hasil mungkin big book itu biasa saja, tetapi saya sangat menikmati proses pencurahan emosi di gambar itu. Saya semakin menyadari bahwa, bukan masalah tentang berbakat atau tidak dalam menggambar, tapi kemauan untuk terlibat dalam berproses.
Oleh: Muhammad Catur Saifudin, @catur_ms