Tampilkan postingan dengan label Pergerakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pergerakan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2013

Coming Soon #FIM15

Forum Indonesia Muda adalah perkumpulan pemuda, 17-30 tahun (berdasar UU pemuda) ayang sama2 belajar, dimana setiap tahun diadakan pelatihan. dan kini pelatihan FIM telah hadir di angkatan ke 15. terus ikuti infonya di @fimnews Fanpage FB Forum Indonesia Muda web: http://wp.forumindonesiamuda.org/ Ikuti dan Sebarkan ya!!
foto saya bersama anak Lumajang juga saat jadi peserta di #FIM13, Achmad Bukhori
Foto Bersama Keluarga Kunang-kunang ;)
Banyak yang sudah membuktikan kok!! Muhammad Catur Saifudin FIM13 IT Telkom

Tentang #R4BIA

saat ini sedang ramai tentang #R4BIA #R4bia pertama kali diperkenalkan oleh Perdana Menteri Turki, Recep Tayip Erdogan sebagai bentuk perlawanan terhadap pembantaian yang dilakukan oleh pemerintahan kudeta, dibawah kepemimpinan As-sisi, mentri Hukum saat Mursi memimpin Mesir. suasana saat perkenalan simbol oleh Erdogan:
Rabi’ah/arba’ah memiliki arti Empat (seperti arti nama saya juga, Catur-GeJe). Rab’ah (angka 4) dijadikan sebagai simbol dari empat kekuatan dalam kondisi Mesir saat ini, yaitu keteguhan, kekuatan, perlawanan dan persatuan untuk seluruh dunia yang mencintai kebebasan. Simbol 4 jari sebagai simbol untuk mengenang markas demonstran Pro Mursi di Rabi’ah yang telah dihancurkan oleh tentera junta. Simbol 4 jari untuk menunjuk ikon Rabi’ah. Ini atas nama Kemanusiaan bukan hanya Agama. saya akan share sedikit foto2 tentang itu. Emre pun menunjukkan kepeduliannya:
yang cukup unik, Polisi jga menunjukkan kepeduliannya :)
As-Sisi Laknatulloh
beberapa aksi di Indonesia:
Mari Peduli!! mari senantiasa menyelipkan do'a untuk mereka.

Kamis, 22 Agustus 2013

Negeri, Kita, dan Masyarakat

Dibuang Sayang :) Sudah lebih dari 64 tahun Indonesia merdeka, negeri ini telah mengalami perjalanan panjang, sebuah perjalanan penuh cuka cita perjuangan. Diawali dengan Orde Lama (1945-1966) yang dipimpin oleh Soekarno, digantikan oleh Soeharto dengan rezim Orde Barunya (1966-1998), kemudian Soeharto ditumbangkan oleh keberanian dan keprihatinan para Pemuda 1998 pada kondisi negeri, setelah tumbangnya orde baru, lalu digantikan oleh era reformasi hingga saat ini. Begitu banyak lika-liku perjalanan bangsa ini sejak dideklarasikan kemerdekaan hingga saat ini, ada zaman ketika kita disebut sebagai Macan Asia, hingga ada saat kita mendapat peringkat ketiga dalam hal korupsi.
Semakin tua usia negeri ini, ternyata kasus dan permasalahan yang menimpa negeri ini juga semakin kompleks. Dilansir dari buku “Mengubah Dunia Kekuatan Gagasan Baru Wirausahawan Sosial”, saat ini kita sering melihat baik di lacar kaca ataupun di media informasi lainnya, bahwa di Bandar Udara Soekarno-Hatta, puluhan ribu tenaga kerja Indonesia (TKI) antre berdatangan dari luar negeri dalam keadaan menderita. Banyak dari mereka yang membawa badan terluka akibat siksaan majikan saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Data 2002 yang dihimpun Konsorsium Pembela Buruh Migran Indonesia (KOPBUMI) menunjukkan, beragam penederitaan telah dialami TKI, dari penelantaran (2.478), penipuan (1.685), penyekapan (470), pelecehan seksual (31), pemerkosaan (27), dan bahkan kematian (177). Data Departemen Tenaga Kerja dan Transmirgasi (DEPNAKERTRANS) Januari hingga September 2003 juga menunjukkan hal serupa, sebanyak 27.208 TKI (12,14%) yang kembali melalui terminal 3 Bandar Udara Soekarno-Hatta, mengadu mendapat peralakuan tidak semestinya, dari pemukulan, penyiksaan dengan disiram air panas, cairan kimia atau sejenisnya, penipuan, dan kerja tanpa digaji.
Tahun demi tahun berjalan begitu cepat banyak sekali bencana alam yang terjadi di negara zamrud khatulistiwa ini. Mengutip dari WALHI dalam sebuah berita di ANTARA NEWS, disebutkan bahwa pada tahun 2007 jumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia mencapai 205 kali, dan kemudian pada tahun 2008 mengalami kenaikan bencana alam yang signifikan yaitu 359 kali. Melihat kondisi bencana alam yang semakin intens pada saat ini, seharusnya menjadi sebuah teguran besar bagi negara yang berada di wilayah equator ini untuk kemudian mulai menyadari pengelolaan SDA yang ada. Teguran demi teguran besar terjadi di negara ini, mulai dari tragedi tsunami Aceh Desember 2004 silam yang menewaskan 127.672 nyawa dan meluluhlantakkan daerah pemukiman penduduk dan sebagian besar daratan negeri serambi Mekah tersebut. Hingga terjadinya persitiwa banjir yang tak kunjung reda di wilayah Bandung Selatan, tepatnya di wilayah yang sangat dekat dengan kampus kita, Dayeuhkolot dan Baleendah.
Berbicara tentang budaya, negara Indonesia adalah negara kaya budaya yang tersebar dari sabang sampai merauke, apabila terus direnungi sebenarnya itu adalah salah satu potensi besar negeri ini, bila kita dapat memanfaatkannya dengan baik. Apabila budaya kita dapat terolah dengan profesional, mulai promosi, sarana, prasarana, dan beberapa hal lain, tentu saja tempat-tempat tersebut dapat menambah penghasilan tersendiri khususnya untuk penduduk setempat. Tapi sayang semuanya belum bisa berjalan dengan baik sehingga masih banyak budaya yang belum terekspose, dan konsekuensi yang harus kita terima adalah, saat ini budaya itu lambat laun terlindas dengan budaya negara lain. Karena sebenarnya membuka wawasan ke negara lain itu penting agar kita menjadi manusia kyang kaya wawasan dan tidak menutup diri, tetapi bukan berarti itu semua menjadikan kita lupa dengan budaya kita. Dulu ketika kita kecil kita sering bermain permainan daerah, mungkin kalau di Jawa ada yang namanya gobak sodor, jemblong senget, lesbong lengyu, dan lain-lain, tapi sekarang permainan itu sangan jarang dimainkan karena terlindas oleh permainan lain. Masih sangat lekat pada ingatan kita tentang permasalahan klaim budaya, mulai tari pendet, batik, dan reog. Mungkin hal itu bisa menjadi sebuah peringatan pada kita agar senantiasa mewarisi budaya kita sendiri, karena kalau bukan kita, orang Indonesia yang mewarisi budaya, lalu siapa lagi?
Ketika berbicara hukum dan keamanan, bisa dikatakan bahwa saat ini sudah hampir tidak ada yang namanya kepastian hukum, karena hukum bisa dibeli orang-orang berduit dan dari sini muncul para people power. Dan golongan itu adalah golongan para orang kebal hukum. Sehingga saat ini banak muncul di masyarakat, maling ayam ditangkap, dipukuli, dan dipenjara, tapi para koruptor(people power) masih bisa berkeliaran bebas bahkan pergi ke luar negeri. Yang parah lagi, saat ini kita merasa bingung ketika mengalami kehilangan barang atau mengalami masalah hukum, kita melapor dan tidak melapor pada pihak berwajib seakan sama saja, karena ketika kita melapor ternyata tidak ada tindakan lanjutan. Badan Anti Korupsinyapun dikerdili demi kepentingan golongan semata. Masih sangat hangat tentang kasus tarik ulur Bibit-Chandra, kasus bentrokan di Tanjung Priok, kasus pajak yang melibatkan anggota Ditjen Pajak, Gayus Tambunan.
Ironinya kondisi ini terus menggerogoti bangsa ini bahkan bisa dibilang tumbuh cukup subur, tentu saja kita tidak ingin melihat kondisi ini terus-menerus terjadi, dibutuhkan tindakan estra untuk mengatasi permasalahan negeri yang semakin kompleks ini. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, yang pertama bisa dengan melakukan reformasi birokrasi di berbagai lembaga, khususnya lembaga pemerintah, sehingga dari hal tersebut bisa memunculkan pemimpinan yang jujur dan senantiasa mengabdi untuk kepentingan rakyat bukan atas kepentingan golongan belaka. Tentu saja hal itu bisa menjadi titik erang di awal yang nantinya diharapkan bisa membawa perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik. Tapi ternyata, untuk melakukan proses reformasi birokrasi itu sendiri adalah sebuah hal yang cukup sulit bahkan ada sebuah perkataan cukup ekstrim yang mengatakan bahwa proses reformasi birokrasi itu adalah langkah yang tidak mungkin apabila semua golongan tidak sepenuhnya sadar bahwa mereka membentuk golongan untuk memajukan Indonesia bukan memajukan golongannya belaka, ya walaupun pendapat ini tidak sepenuhnya benar, tapi itulah salah satu pendapat yang diungkapkan oleh suara rakyat karena berdasar emosi dan pengamatannya selama ini melihat perdebatan antar golongan yang didalamnya banyak membahas permasalahan yang kurang substansial yang intinya hanya menjatuhkan antar golongan. Tapi sekali lagi ditekankan bahwa langkah ini bukan berarti tidak mungkin untuk diwujudkan.
Apabila tadi yang pertama melakukan perubahan melalui reformasi birokrasi yang merupakan sebuah pergerakan atas ke bawah (pemerintah ke rakyat), kalau yang kedua dilakukan dengan cara sebuah gerakan bawah ke atas (bottom up), yang gerakan ini dilakukan di level masyarakat. Tujuan gerakan ini adalah berusaha untuk menjadi fasilitator dalam pemberdayakan masyarakat berdasarkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat, di dalam pemberdayaan tersebut kita berusaha mendorong masyarakat untuk memiliki akses yang lebih luas baik dalam menentukan persoalan sampai dengan merumuskan inisiatif tindakan penyelesaiannya dan nantinya diharapkan menjadi sebuah masyarakat mandiri, yang dari satu masyarakat menular ke masyarakat lain dan nantinya akan menjadi Indonesia mandiri, hematnya dari membuat satu komunitas masyarakat mandiri itu bisa semakin mempercepat pembangan bangsa. Banyak sebutan untuk orang yang melakukan perubahan melalui bidang sosial ini, ada yang menyebut wirausahawan sosial, pejuang sosial, dan lain-lain. Gerakan ini dirasa cukup efektif, karena sasaran dari gerakan ini adalah masyarakat secara langsung, ini cocok dengan teori sumber daya manusia yang mengatakan bahwa peningkatan mutu SDM akan menjadi kunci utama dalam pembangunan bangsa, jadi banyaknya penduduk bukanlah menjadi beban suatu bangsa, bila mutunya tinggi, untuk itu pembangunan hakekat manusiawi hendaknya menjadi arah pembangunan dan arah perbaikan mutu sumber daya manusia akan menumbuhkan insiatif dan kewiraswastaan, (Muhadjir 1987:22). Para wirausahawan sosial harus banyak terlahir, karena apabila semakin banyak orang yang peduli dengan pemberdayaan masyarakat maka insyaAllah Indonesia akan semakin cepat menjadi negara yang mandiri. Banyak macamnya dari wirausahawan sosial ini, apabila kita di bidang teknologi, kita setidaknya menghasilkan sebuah teknologi yang berguna untu masyarakat, bila kita berada di pertanian bagaimana caranya kita meningkatkan pertanian negeri untuk kesejahteraan masyarakat yang nantinya akan menjadi sebuah akselerator pembangunan nasional.
Mari terus bergerak untuk Indonesia lebih baik!
...Terima kasih...

Menteri Pengabdian Masyarakat
BEM KBM IT TELKOM 2010
*mohon maaf bila ada kesalahan, terima kasih.

Selasa, 11 Januari 2011

Alhamdulillah di bulan Januari


alhamdulillah di bulan Januari ini, ada beberapa hal yang menurut saya adalah hal besar,,,

1. saya bersama tiga rekan saya, Wahyu Prihantoro, Ahmad Fajar, dan Muhammad Misbakhudin telah mendeklarasikan dan meresmikan membuat sebuah lembaga training yang bernama, "QUANTUM LEADFERSHIP AND MOTIVATION TRAINING" semoga dapat terus memberi kemanfaatan

2. ini juga sebuah doa agar Tarbiyah bisa masuk di SMA Negeri 1 Lumajang dan bahkan bisa legal, saya bersama teman2 alumni Remush Fii Sabilillah Al-Qudwah SMA Negeri 1 Lumajang akan mengadakan training dengan judul, "Menjadi Muslim Sejati", semoga menjadi gerbang awal Tarbiyah di SMA ini..amin...

semoga terus memberi Kemanfaatan

Parentivasi: Revolusi Pendidikan (Jilid 1)

)
by Komunitas Bisa! on Wednesday, January 5, 2011 at 5:33am

Parentivasi: Revolusi Pendidikan (jilid 1)Isa Alamsyah



Entah kenapa saya merasa harus mengungkapkan kejengkelan saya terhadap materi pendidikan di Indonesia,

bahkan di dunia, karena kita jadi terpaksa ikut menyesuaikannya.



Pendidikan nampaknya harus direvolusi.

Betapa anak-anak menderita stres dengan pelajaran yang di masa depan mungkin tidak bermanfaat sama sekali.

Mereka kadang diangggap bodoh, kurang berpendidikan hanya karena gagal di sekolah.

Semua terjadi karena sekolah menjadi indikator pendidikan,

padahal di sekolah banyak pelajaran yang tidak penting yang dipaksakan untuk dipelajari.

Seharusnya pendidikan tidak selalu identik dengan sekolah,

dan idealnya sekolah bukan satu-satunya yang berhak menilai kadar terdidik atau tidaknya seseorang.



Ilmu dibagi menjadi dua, ilmu murni dan ilmu terapan.

Ilmu murni berarti ilmu untuk ilmu itu sendiri, jadi manfaatnya nanti dulu,

sedangkan ilmu terapan berarti mencakup manfaat ilmu untuk kehidupan.



Karena ada dua sifat tersebut maka dalam pendidikan juga harus dibagi menjadi dua,

ilmu murni karena tidak langsung bermanfaat maka sifatnya bagi siswa HANYA SEKEDAR TAHU.

Jadi tugasnya hanya untuk MEMANCING MINAT untuk ke tingkat yang lebih tinggi.

Karena itu ilmu ini tidak boleh dibebankan ke dalam test.

Kalau ada yang berminat baru ikut penjurusan.



Sedangkan ilmu terapan harus difahami dipraktekkan dan menjadi bekal kehidupan.



Contohnya sederhana.

Ada anak Indonesia, yang berbicara dengan bahasa Indonesia, bermain dengan bahasa Indonesia,

tetapi tidak lulus pelajaran Bahasa Indonesia. Itu aneh, karena esensi bahasa adalah komunikasi.

Bagaimana mungkin kita tidak lulus bahasa Indonesia cuma karena tidak mengerti konsep SPOK, SP, kalimat majemuk, KV, KVK, KKVK, dll, padahal sehari-hari kita berbicara bahasa Indonesia.

Yang bodoh siapa?

Si anak yang lancar berbahasa bahasa Indonesia tapi tidak tahu konsep anak kalimat, kalimat majemuk, dll,

tapi tahu cara memakainya dengan benar,

atau penilai yang mementingkan teori anak kalimat, kalimat majemuk bertingkat dsb, yang bahkan tidak peduli anak-anak tersebut hidup dengan bahasa tersebut dan berkomunikasi dengan bahasa tersebut.

Ini sama saja dengan tidak memberi sertifikat renang pada ikan hiu karena ikan hiu tersebut gagal menjelaskan gaya renang apa yang dipakainya.

Menurut saya, pengetahuan SPOK, kalimat majemuk, dan teori bahasa hanya ditempatkan sebagai ilmu yang perlu diketahui tapi tidak boleh masuk dalam test.

Kalau siswa tidak suka ya sudah jangan dipaksakan, toh tidak terlalu bermanfaat dalam kehidupan.

Lucunya ada anak yang bunuh diri akibat UAN bahasa Indonesianya hancur. Padahal ia menulis surat bunuh diri dalam bahasa Indonesia. Tragis.



Apa yang penting dalam bahasa?

Anak perlu diajar kemampuan menulis.

Kemampuan menyampaikan ide secara tulisan.

Itu yang penting, dan banyak penulis handal yang tidak ngerti SPOK tapi jadi penulis sukses.

Parahnya di daerah anak-anak dibebankan lagi bahasa daerah, please deh.

Cukup bahasa persatuan dan bahasa Internasional.



Coba lihat pelajaran biologi.

Ada SD diajar tentang organ kodok, jenis jaringan tumbuhan, dsb.

Tapi lulus SD mereka tidak mengerti banyak hal yang bermanfaat untuk kehidupan misalnya, survivor (tahu mana pohon yang beracun mana yang tidak kalau terdampar), tahu bagaimana mengatasi gas beracun, P3K.

Mereka tidak tahu betapa bahayanya rokok, bagaimana menghindari narkoba, apa ciri-ciri narkoba,

bagaimana mengatasi demam berdarah, bagaimana penanggulangan dini kalau ada korban luka bakar.

Ini justru penting bagi kehidupan.

Mereka tidak mengerti bagaimana memasak beras agar tidak terbuang vitamin B nya

Mereka tidak tahu kalau susu jangan dicampur air panas karena kalsiumnya rusak, dll.

Yang justru penting untuk kehidupan tapi tidak diajarkan.

Kalau masalah kodok, tikus dan sebagainya hanya untuk memancing minat yang proporsinya hanya sekedar memancing minat saja bukan membebani.

Sedangkan yang bermanfaat untuk kehidupan harus dikuasai.



Anak anak juga diajar tentang planet. Mereka tahu jumlah planet, nama planet dan ukuran planet.

Tapi mereka tidak diberi pelajaran tentang global warming, cinta lingkungan, dll yang justru berkaitan dengan kehidupan. Mereka juga tidak ada pelajaran persiapan bencana tsunami dan gempa dalam kurikulum.

Justru ilmu yang penting ini diberikan oleh pengajar tamu dari PBB (United Nation) dan NGO internasional yang tentu saja tidak menyentuh semua siswa dan bersifat berkala saja.

Tapi urusan planet di tata surya yang kita tidak tahun tahun berapa akan bermanfaat, semua siswa wajib menghapal.

Kalau sekedar minat, ya ajak nonton bareng film tata surya, mereka yang berminat akan memutuskan ke jenjang antariksa.

Kita mungkin butuh beberapa ratus ahli antariksawan, mungkin beberapa ribu,

tapi tidak perlu puluhan juta anak harus menguasainya bukan?

Kalaupun ada yang perlu diketahui dari antariksa adalah justru kemampuan menentukan arah kompas, ini malah tidak diajarkan (tidak didalami). Masih banayak anak tidak tahu mana utara, selatang, tenggara, dsb.



Intinya, kita cuma butuh beberapa ribu ahli fisika.

Kita cuma butuh beberapa ribu ahli linguistik

Cuma butuh beberapa ahli biologi, dll.

Tetapi kenapa ratusan juta anak wajib mempelajarinya, dan stress karenanya.



Kalau orientasi kita rubah dengan pelajaran yang faktual, actual dan selektif,

sedangkan bangsa lain masih terbelenggu dengan pendidikan simbolis dan konvensional,

maka kita akan menyusul bangsa lain.



Kita perlu mendefinisikan ulang materi pelajaran.

MANA YANG CUMA SEKEDAR PENGETAHUAN dan MANA YANG HARUS DIKUASAI.

Memang untuk beberapa anak yang mau melanjutkan ke LN jadi susah.

Ya sudah di drill saja 6 bulan menjelang ke sana kekejar koq!

Kepada anak-anak saya tidak memaksa mereka belajar.

Yang penting mereka berkarya.



Apalagi dengan adalnya UAN.

6 tahun mati-matian akan sia-sia hanya dengan kegagalan test 3 hari. Sialnya pas test jatuh sakit.

Lebih baik 5 1/2 tahun bahagia, 1/2 tahun siapkan UAN mati-matian.



Seharusnya penjurusan di mulai di SMP saja, jangan di SMA nanti terlalu banyak hal yang tidak penting dipelajari lagi.

Jadi anak lulus SMA sudah produktif.

Dan penjurusan jangan sekedar Fisika, Biologi dan sosial.

Kini harus di tambah Teknologi Informasi.

Buat praktisi IT sebanyak-banyaknya karena segala hal bisa dipermudah dengan IT.

Korupsi biaya tinggi, penyelewengan pajak, pengajaran online, dll bisa dibantu IT.

Jika IT maju pemilu tidak perlu sensus, kartu baru dsb. Cukup KTP Smart yang mempunyai data digital.



Banyak orang saat ini bekerja dengan membuang katakanlah 80 - 90% pelajaran yang tidak ada manfaatnya.

Siilahkan hitung sendiri.

Apakah pelajaran PSPB, IPBA, Sastra, dll sangat berpengaruh dengan pekerjaan Anda sekarang.

Coba ingat ingat semua pelajaran kita, mana yang bermanfaat?



Saya mendidik anak-anak lebih pada orientasi ilmu bermanfaat dan karya.

Salsa dan Adam anak saya yang SD sudah bisa photo shop.

Saya bilang ke mereka. Dengan satu keahlian ini saja kamu sudah bisa menghasilkan uang puluhan juta per bulan,

separti om ini, ini, dan ini saya menyebutkan nama desiner grafis yang mereka kenal..

Salsa sudah menulis 5 buku, Adam menulis 2 buku.

Saya bilang ke mereka, dengan kemampuan ini saja, kamu bisa berpenghasilan puluhan juta per bulan,

seperti ini, ini, dan ini... nama-nama penulis.

Salsa dan Adam kini suka internet. Saya bilang, kalau kamu dalami internet kamu bisa jadi orang terkaya di dunia.

Mereka juga mendalami, olah raga dan musik.



Kalau Salsa atau Adam pulang dengan nilai ujian jelak atau bagus.

Maka saya check kesalahannya.

Kadang saya bilang "Ini pertanyaan penting, kamu harus tahu jawabannya"

Kadang saya bilang "Wah kalau soal ini gak apa salah, nanti juga gak kepakai dalam kehidupan.

Ayah udah puluhan tahun hidup gak pernah pakai pengetahuan ini (saat itu soalnya tentang kota ini lintang berapa derajat bla..bla..bla) saya bilang gak usah hapalin lintang derajat begini, cari yang lebih bermanfaat.

Mungkin saya seperti orang tua ngaco, ya kan?

Tapi itu cara saya mendidik anak untuk menseleksi ilmu.

Saya gak mau anak-anak stres untuk pengetahuan yang menurut saya tidak penting.



Tapi saya juga menantang mereka belajar efektif. Dengan waktu belajar sedikit tapi hasilnya memuaskan.

Kita kembangkan beberapa metode, intinya tangkap semua pelajaran di sekolah, perhatikan, tidak tahu tanya, lalu ulang dirumah, presentasi, dsb.

Alhamdulillah Salsa dan Adam sejauh ini selalu mendapat ranking atas sekalipun belajar banyak hal lain di luar sekolah.



Ya sudah, entah kenapa saya lagi marah dengan pendidikan yang membebankan banyak ilmu yang tidak bermanfaat.

Just an idea (Tulisan ini ada di notes saya sejak Oktober 2010 lalu)



Tapi saya akan melakukan riset dan gerakan serius untuk merevolusi pendidikan!

Just wait and see.



Bayangkan kita mau ke medan perang.

Ada dua kelompok orang yang mau direkrut.

Satu ilmuwan yang tahu berbagai nama senapan, tahu jarak tembak senapan tahu bahan baku senapan,

mereka hapal senapan tersebut ditemukan oleh siapa, tahun berapa, dll.

Tapi dia tidak bisa menembak, tidak bisa menggunakan senjata.

Kelompok kedua adalah kelompok pemuda. Mereka tidak tahu siapa pembuat senapan, tidak tahu tahun berapa dibuatnya.

Mereka tidak bisa menjabarkan alasan kenapa peluru bisa meluncur.

Tapi mereka tahu bagaimana menembak, merakit senapan, merawat dan menggunakannya.

Kira-kira kelompok mana yang kita bawa ikut perang?



Nah generasi kita ke depan menghadapi banyak medan petempuran di bidang ekonomi, teknologi, informasi, dll,

kalau mereka dicekoki sesuatu yang tidak bermanfaat di masa depan, bisa jadi kita akan kalah perang.



Bagaimana menurut Anda?



Anatole France:

The whole art of teaching is only the art of awakening the natural curiosity of young minds for the purpose of satisfying it afterwards



Johann Wolfgang von Goethe: Correction does much, but encouragement does more.



John Dewey:

The aim of education is to enable individuals to continue their education ... (and) the object and reward of learning is continued capacity for growth. Now this idea cannot be applied to all the members of a society except where intercourse of man with man is mutual, and except where there is adequate provision for the reconstruction of social habits and institutions by means of wide stimulation arising from equitably distributed interests. And this means a democratic society.



Robert Fulghum: All I really need to know ... I learned in kindergarten.



St. Francis Xavier:

Give me the children until they are seven and anyone may have them afterward.



Roger Lewin:

Too often we give our children answers to remember rather than problems to solve.

sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150134476977652&id=253151348087

Jumat, 17 Desember 2010

Berkelanjutan Versus Insidental



Kegiatan kemasyarakatan adalah suatu kegiatan berbasis masyarakat yang mengutamakan kepedulian untuk sesama bukan keuntungan berupa finansial, yang dikejar adalah sumbangsih untuk masyarakat yang tentu saja secara tidak langsung itu adalah sumbangsih untuk negeri ini. Kegiatan tersebut menekankan bahwa masyarakat menjadi obyek dan pihak yang peduli menjadi subyek. Banyak macam kegiatan yang sudah sering diadakan oleh perseorangan/kelompok yang peduli kepada masyarakat, seperti bakti sosial, pembagian sembako gratis, pengobatan gratis, desa binaan, dan berbagai kegiatan kepedulian lainnya.
Inti dari kegiatan tersebut adalah sama yaitu kepedulian, tapi secara umum kegiatan-kegiatan tersebut bisa dibagi menjadi dua cluster, yaitu kegiatan yang bersifat insidental dan berkelanjutan. Kegiatan insidental adalah suatu kegiatan yang dilakukan dalam jangka waktu pendek dan umumnya kegiatan ini dilakukan dalam kondisi darurat atau kondisi tertentu sehingga kegiatan ini memberikan efek dalam jangka waktu yang cukup pendek. Misal kegiatan pengobatan gratis yang dilakukan hanya sekali waktu. Kegiatan ini banyak dilakukan ketika kondisi yang memang darurat atau kondisi tertentu, misal pasca banjir, pasca gempa, dan kegiatan darurat atau kondisi tertentu lain, dan apabila kegiatan ini dilakukan diluar kondisi tersebut, kegiatan ini agaknya kurang sesuai, karena kegiatan ini memang memberikan efek jangka pendek dan terkesan memanjakan masyarakat sehingga mereka banyak bergantung pada kita tanpa ada kemauan untuk hidup mandiri atas jerih payah mereka sendiri.
Yang kedua adalah kegiatan yang bersifat berkelanjutan, kegiatan ini dilakukan dalam rentang waktu tertentu, kegiatan ini sangat identik dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat, yang hasil dari kegiatan pemberdayaan masyarakat ingin mewujudakn masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Berbeda dengan kegiatan yang bersifat insidental, kegiatan ini memberikan efek jangka panjang karena inti dari kegiatan ini adalah menjadikan masyarakat mandiri dan sejahtera terutama dari segi ekonomi. Kegiatan ini menitik beratkan pada pemberian keterampilan, yang selanjutnya para pelaku pemberdayaan masyarakat akan membimbing masyarakat untuk memanfaatkan keterampilan demi meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat. Kegiatan berkelanjutan ini cukup sesuai untuk mempercepat memajukan bangsa dan bentuk pengabdian kepada masyarakat. Banyak yang sudah mulai konsern pada kegiatan ini, pemerintah dengan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), LSM dengan masyarakat mandiri atau masyarakat madani, mahasiswa banyak yang memberi nama Desa Binaan, dan gerakan peduli masyarkat lainnya yang mungkin memiliki nama yang berbeda tapi intinya sama, untuk masyarakat mandiri dan sejahtera, untuk Indonesia lebih baik!
Mari terus bergerak untuk Indonesia lebih baik!
...Terima kasih...
Menteri Pengabdian Masyarakat
BEM KBM IT TELKOM 2010
*Saya Menyampaikan, Anda Memutuskan! ^_^

Semangat Sumpah Pemuda


Semangat Sumpah Pemuda
81 tahun sudah, Momen 28 Oktober adalah momen yang tepat untuk para pemuda Indonesia, karena itu adalah prestasi besar pemuda zaman itu. Ketika kita berada dalam tekanan para penjajah, para pemuda saat itu berusaha untuk membuat suatu gerakan yang satu untuk mempersatukan para pemuda Indonesia, sebuah gerakan yang kembali mengharumkan kaum muda dihadapan masyarakat Indonesia. Gerakan itu telah dimulai ketika kelompok pemuda dari berbagai golongan, suku, agama, aliran politik merasa perlunya sebuah perekat, pemersatu agar bangsa Indonesia semakin solid dan kuat untuk mewujudkan kemerdekaan. Gerakan besar yang menjadi kekuatan peleburan kekuatan pribadi dan golongan yang bersumber dari kesadaran primodialisme etnis menjadi kesadaran kolektif Nasional. Segala persamaan dan perbedaan itu mengkristal dalam arena Kebangsaan yang berbasis Nasionalisme.
Gerakan bersejarah ini awalnya diprakarsai oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia(PPPI), sebuah Organisasi yang beranggotakan pemuda dari hampir seluruh pelosk Indonesia, yang kemudian terealisasikan dalam Kongres Pemuda II. Diselenggarakan rapat akbar para pemuda yang dihadiri oleh wakil-wakil organisasi pemuda, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Cellebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan lain-lain. Mereka berhasil mengekang simbol eynisitas masing-masing dan mengangkat nilai-nilai Nasionalisme yang bisa diterima oleh berbagai pihak. Gerakan besar ini akhirnya membuahkan sebuah makana besar, Sumpah Pemuda yang Berikrar
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Bertumpah Darah Jang Satoe, Tanah Air Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Medjoendjeong Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia
Namun ironisnya, Sumpah Pemuda selama ini hanya menjadi sebuah Seremoni tanpa arti dan rutintas tanpa bekas. Artinya, 28 Oktober hanya dijadikan sebagai hari Upacara romantisme sejarah yang dikenang belaka. Padahal dibalik itu terdapat makna terdalam yang ingin disampaikan oleh leluhur kita, yaitu komtmen untuk berbakti dan berbuat yang terbaik untuk bangsa. Salah satu kegagalan bangsa ini adalah kegagalan mengungkap Makna, padahal dengan menemukan makna, bangsa ini akan mampu menghadapi tantangan apapun di dalam perjalanan hidupnya. Untuk itu perlu dibangun lagi kesadaran dalam memaknai sumpah pemuda.
Meneguhkan kembali semangat Pemuda dalam mempersatukan bangsa. Sumpah pemuda yang telah dimuseumkan di Gedung Kramat 106 tidak akan bermakna manakala pemuda Indonesia bertindak statis atau jalan ditempat. Padahal salah satu tujuan museum yang telah dibangun sejak 1972 adalah untuk memberikan teladanbagi pemuda bahwa keanekaragamn Organisasi Pemuda di Nusantara kala itu tetap bisa disatukan dan dikukuhkan demi kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Generasi Muda adalah penentu arah perjalananbangsa di masa berikutnya. Terlebih mahasiswa, sebagai inti dari Generasi muda, ia mempunyai kelebihan dalam pemikiran ilmiah, semangat muda yang membara, sifat kritis yang menyala, kematangan logika dan kebersihannya dari noda orde di masanya. Mahasiswa adalah motor penggerak utama perubahan. Mahasiswa diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejumudan masyarakat. Harapan besar laak ditumpukan kepada pemuda yang berjuluk Mahasiswa. Ditangan mereka, masa depan bangsa ini dititpkan. Di tangan mereka, kunci keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diserahkan. Dan, di pundak mereka, bangsa ini disandarkan.
Namun, kesedihan menyeruak ketika melihat perilaku destruktif, anarkis dan tindakan-tindakan lain yang bertentangan dengan semangat Sumpah Pemuda. Perkelahian pelajar, keterlibatan dalam narkoba dan berbagai tindakan kriminalitas lain mendesakkan keprihatinan kita akan nasib bangsa ini. Jika demikian, kepada siapa lagi nasib bangsa ini dititipkan? Tiba saatnya para pemuda bangkit dari tidur panjang, mengaktualisasikan kembali semangat dan jiwa sumpah pemuda demi masa depan bangsa. Tidak boleh Loyo, tidak boleh ongkang-ongkang, tenang-tenang saja, dan berpangku tangan. Ketiadaan musuh yang bersenjata meriam seharusnya menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan. Saat ini kita sedang dijajah oleh rasa keegoan dan Individualitas kita sendiri, sehingga kita mulai meninggalkan nilai budaya ketimuran yang dulunya disegani oleh bangsa lain. Ya, sekarang telah terjadi Krisis Pergeseran Moral, apabila kita sedikit menelongok ke beberapa tahun lalu, begitu banyak hal yang padahal dulu dianggap begtu tabu, dilarang bahkan dibuat sebagai bahan Pergunjingan saat ini malah dijadikan sebagai sebuah trend yang menurut suatu golongan itu adalah sebuah gaya masa kini, dan kalau kita tidak mengikutinya berarti kita adalah golongan yang Jadul.
Ayo kita kembalikan jati diri bangsa yang berbudi luhur, mengambalikan Nilai-nilai Pancasila sebagai jati diri bangsa, Menorehkan kembali Semangat Sumpah Pemuda untuk Mengembalikan jati Diri Bangsa. Dengan mulai meninggalkan arus Individualitas, ras, suku, Agama, dan kembali pada Cinta Damai Untuk Negeri Tercinta, INDONESIA. Ayo kembali kita gaungkan semangat Kepemudaan kita, JAYA TERUS INDONESIAKU!! Kami akan terus berbakti kepadamu!!
Dari berbagai sumber,
terima kasih pada irhamku.blogspot.com/2007/10/semangat-sumpah-pemuda.html

Aku, Tarbiyah, dan Kampus



Aku, sebuah kata yang menggambarkan tentang diri seseorang, yang gambaran itu didapat dari sebuah perenungan akan pemaknaan diri, siapakah diri kita masing-masing? Aku, adalah penggambaran seorang makhluk yang lemah, tak berdaya, berlumuran dosa, tapi masih sok dengan hal baik yang sedang atau telah dilakukan, padahal niatnya belum tentu lurus dalam melakukan kebaikan itu, padahal belum tentu itu memang baik untuk semua orang, padahal belum tentu hal itu memang diridhoi oleh Allah, lalu apakah ternyata itu baik? Aku, hanyalah manusia biasa yang masih banyak khilaf dan tak jarang juga menuruti hawa nafsu yang biasanya dilatarbelakangi oleh godaan setan.
Tapi sebuah nikmat terbesar dalam hidupku yang harus terus disyukuri adalah bahwa aku seorang muslim. Karena dengan nikmat itulah, diri yang lemah, penuh dosa, dan penuh keterbatasan ini bisa saja mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dunia akhirat, bukan karena ibadah yang dilakukan tapi karena rahmat dan kasih sayang Allah pada hambanya, itulah indahnya kita berislam. Aku, apakah memang benar-benar sudah menjadi generasi Islam yang dikehendaki Allah? Apakah Islam sudah benar-benar ada dalam diriku? Ada dalam setiap hembusan nafasku? Ada dalam setiap detik waktu yang berjalan? Kalau jawabannya belum, lalu apa yang sudah aku selama ini? Bukankah Islam adalah solusi atas pelbagai persoalan kehidupan, bukankah Islam adalah agama yang diridhoi oleh Allah.
Ketika hati ini kering kerontang karena makin jauh pada Allah, karena pemaknaan pada Islam yang salah, karena tindakan yang tidak sesuai dengan syariat. Saat itulah kita membutuhkan obat, tarbiyah. Tarbiyah adalah layaknya obat ketika kita sedang sakit, sakit karena kesalah pemaknaan pada Islam, karena tindakan tidak sesuai syariat yang harusnya membawa kemanfaatan ee..kok malah membawa kemelangratan. Kan hanya ada dua jalan, kita menjadi bagian dari solusi atau mungkin sebaliknya, kita bagian dari penghancur nilai-nilai keindahan Islam. Naudzubillah...
Tarbiyah akan senantiasa menjadi obat, dimana obat itu akan memberikan kita efek perubahan yang lebih baik, perubahan dari ketika aku tidak bia menjadi bisa, perubahan dari ketika aku belum tahu menjadi tahu, perubahan dari ketika aku hanya menjadi penonton berganti menjadi aktor dalam panggung pembangunan peradaban Islam ini. Tarbiyah akan terus ada, karena perubahan akan terus berguling, perubahan waktu akan memberikan efek pada sosok aku, perubahan waktu berpengaruh pada perubahan iman, perubahan waktu berpengaruh pada sisi psikologis. Oleh karena itu, orang-orang yang sabarlah yang akan terus bertahan dalam tarbiyah ini. Bagaimana tidak, ketika yang lain sedang asyik tidur orang-orang yang tertarbiyah harus merelakan waktunya untuk memenangkan pemilu, ketika yang lain sedang asyik bercengkeramah dengan keluarga orang-orang yang tertarbiyah harus merelakan waktunya, tenaganya untuk berkeliling mengisi halaqoh, untuk menyebarkan syariat yang ternyata sekarang banyak orang menganggap bahwa syariat itu mengerikan padahal anggapan itu salah, syariat itu indah bahkan begitu indah.
Tarbiyah akan terus ada, ketika masih ada orang yang belum Islam, atau ada orang yang mengaku Islam tapi masih bergelimang dengan hal-hal yang tidak disukai oleh Allah, ketika masih ada orang yag mengaku Islam tapi belum memiliki pemahaman yang benar tentang Islam itu sendiri. Dan aku terus berdo’a pada Allah, bahwa tarbiyah selalu ada dalam diriku, dan aku bisa terus berada pada tarbiyah. Sekali lagi, bukan menjadi penonton tapi menjadi aktor.
Do’a itu, Tarbiyah ada dalam diriku, dan aku ada dalam tarbiyah berawal dari sebuah lingkungan kecil yang berada dalam masyarakat , sebuah lingkungan intelektual muda penuh semangat perubahan dan perjuangan, yaitu kampus. Kampus akan terus menjadi pemasok manusia-manusia cerdas beriman, manusia-manusia dengan semangat juang tinggi untuk menegakkan kalimah Allah. Karena kampus akan terus diisi oleh para pemuda kritis, analis yang siap berjuang, karena pemuda tidak akan serta merta menerima sesuatu tapi pemuda akan terus kritis, berpikir ketika menerima sesuatu. Inilah yang akan mengakibatkan tarbiyah akan terus ada di kampus-kampus, bahkan tidak hanya ada tapi tarbiyah akan terus berkembang di kampus-kampus. Dan aku terus berdo’a, bahwa Tarbiyah ada dalam diriku, aku ada dalam tarbiyah, dan tarbiyah akan terus ada di kampus IT Telkom....

Kamis, 04 November 2010

IT Telkom Peduli

IT Telkom Peduli
by Muhammad Catur Saifudin on Tuesday, November 2, 2010 at 9:23am

Hidup Mahasiswa!

Hidup Rakyat Indonesia!



Indonesia adalah negara yang kaya dengan alamnya mulai dari gunung, laut, dan hasil bumi. Alam bisa bersahabat dan juga bisa kurang bersahabat dengan kita, dan saat ini alam sepertinya sedang kurang bersahabat dengan kita. Ketika kita sedang melakukan UTS dan disibukkan dengan aktifitas UTS, ternyata seperti yang sudah kita ketahui melalui berbagai media, mulai dari internet, dan televisi bahwa terjadi bencana letusan Gunung Merapi di Yogyakarta dan bencana tsunami di Mentawai. Kita, Keluarga Besar Mahasiswa IT Telkom (KBM IT Telkom) melalui Badan Tanggap Bencana Keluarga Besar Mahasiswa IT Tekom (BTB KBM IT Telkom) juga akan terus bergerak untuk turut memberikan kontribusi sebagai bentuk kepedulian kita pada saudara-saudara kita di negeri ini. Ditengah UTS, tepatnya tanggal 30 Oktober 2010 kita telah mengadakan rapat konsolidasi dengan para ketua ormawa IT Telkom untuk membicarakan kontribusi kita, dan menghasilkan beberapa keputusan:


1. Melakukan penggalangan dana untuk Merapi dan Mentawai
Penggalangan dana ini dilakukan di civitas akademia IT Telkom mahasiswa, dosen, dan pihak-pihak lain. Penggalangan ini dilakukan di kelas (mulai Rabu, 031110), di beberapa area kampus(gedung kuliah, gedung lab, learning center, dll), lewat milis dosen(dengan bantuan Bu Endang Budiasih). Selain itu pada Rabu, 3 November 2010, kami juga akan mengadakan penggalangan dana di kantin bersama UKM Band serta galeri informasi bencana dan pengumpulan bantuan di tengah gedung B.

Jadi untuk teman-teman yang ingin membantu, bila dalam bentuk uang bisa dikirim ke rekening 1310006213005 a.n. MuhammadFadhil Al-anwary, bantuan lain seperti baju bisa langsung dibawa ke sekre BEM IT Telkom.

2. Mengirim relawan ke Mentawai
Selain melakukan penggalanga dana, kami juga mengirim dana ke Mentawai. Kenapa Mentawai? Karena beberapa pertimbangan, yaitu bila di Merapi sudah banyak bantuan, dan relawan, tapi untuk mentawai, hanya sedikit relawan yang berada disana dan bantuan yang masuk disanapun sedikit. Maka dari itu, kami memutuskan untuk mengirim relawan ke Mentawai. cp relawan :engkong 081511755930

Sudah cukuplah kita mendapat begitu banyak informasi dari televisi, internet, dll, sekarang saatnyalah kita tunjukkan kepedulian kita lewat aksi nyata. Untuk itu, kami mengajak seluruh mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam aksi kepedulian ini. InsyaAllah apapun yang kita lakukan dan atau kita berikan bisa bermanfaat untuk orang lain, tidak perlu berpikir yang kita berikan itu kecil, atau sedikit yang terpenting bukanlah besar atau kecil tapi keikhlasan kita. Lebih baik lagi kalau besar dan ikhlas, :D. Karena, “Sedikit dari kita, sangat berarti untuk mereka.”

Kami mengajak, anda yang memutuskan!

Terus Bersinergi dalam bergerak!

Salam Perjuangan!

a.n.Keluarga Besar Mahasiswa IT Telkom



Aktivis Dakwah dan Retorika Umat?

Aktivis dakwah, generasi solutif atas berbagai retorika umat kekinian.
Topik: Apakah Kita Aktifis?
Bismillah....
Islam adalah agama kedamaian yang memang mengajarkan kedamaian, tidak hanya itu, Islam adalah menjadi solusi atas segala permasalahan di dunia ini. Tapi kita, masyarakat muslim khususnya di Indonesia dirasa masih belum menunjukkan ciri-ciri bahwa kita adalah solusi atas permasalahan-permasalahan yang muncul di kehidupan masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah masalah pemahaman tentang Islam masih belum bagus, ini tidak terlepas juga disebabkan oleh masyarakat yang diserang dari segala sisi oleh kumpulan orang-orang yang membenci Islam atau bahkan malah menyerang umat Islam, dan serangan-serangan itu sangat lembut dan terkesan lembut sehingga kita menadi tidak terasa dalam menenerima serangan tersebut seperti lewat makanan, film, iklan, media massa,dan itu menjadi sebuah ghazwul fikri atau perang pemikiran. Bagaimana tidak? Karena serangan-serangan tersebut berdampak pada pemahaman Islam, akidah, akhlak dan banyak hal lain. Bahkan, muncul di masyarakat atau mungkin di lingkungan keluarga kita itu orang yang mempelajari Islam dengan rutin malah dibilang teroris mungkin cuma karena tidak bersalaman(bersentuhan) dengan yang bukan mahram, padahal hal itu memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai muslim. Sehingga apakah kita akan bermusuhan dengan orang Islam dan kita malah bergandengan erat dengan orang-orang kafir yang jelas-jelas telah menyerang kita, mengkerdilkan kita, dan berusaha menghancurkan peradaban Islam yang penuh rahmat Allah ini? Tentu saja, jawabannya tidak! Teringat kata-kata Ustadz Rahmat Abdullah, bahwa seperti monyet yang diserang dengan angin kencang, si monyet berpegangan sangat erat, sehingga tidak jatuh, tapi ketika si monyet terkena angin sepoi-sepoi malah jatuh. Itulah gambaran manusia yang terkena cobaan dengan hal-hal yang terkesan condong ke hedon/kesenangan dunia saja.
Ibarat sebuah kata-kata entah apa itu namanya bisa pepatah atau yang lain, bahwa dimana Allah menurunkan sebuah penyakit disaat itu juga Alah menurunkan obatnya. Seperti jaman kaum Nabi Musa as dengan kondisi masyarakat dan umat yang seperti it diturunkanlah obatnya berupa ajaran dari Allah yang diturunkan lewat Nabi Musa as. Sama halnya dengan jaman jahiliyah, sebelum ada Nabi Muhamad SAW dengan jaman ketika beliau sudah ada. Dimana beliau membawa risalah dari Allah azza wa jalla yang diturunkan secara berkala dan keteladanan yang ada pada diri Rasulullah SWT semuanya menjadi obat atas segala penyakit yag muncul di dunia ini, baik penyakit yang muncul di diri, masyarakat, di dunia pemerintahan, yang selaras dengan Islam yang menjadi rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam. Dan akan terus ada orang-orang yang senantiasa menjalankan dan memperjuangkan risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Yang senantiasa berjuang dengan hanya mengharap ridho Allah. Yang senantiasa berjuang agar menjadi generasi-generasi solutif atas masalah umat. Karena tidak ada yang patut menjadi tujuan hidup selain ridho Allah azza wa jalla.
Banyak orang yang tersadar dengan berbagai permasalahan umat dan akhirnya mereka bergerak. Dan saat ini banyak yang mengatakan bahwa mereka adalah generasi solutif atas masalah yang terjadi, mungkin masalah masyarakat merek berjuang agar masyarakat menjadi sehahtera sehingga muncul sebutan bahwa mereka adalah aktivis masyarakat, tokoh masyarakat. Ada juga yang melihat sebuah permasalah di bidang lingkungan dan akhirnya mereka bergerak untuk memperbaiki bidang lingkungan agar mencapai suasana yang nyaman dan menimalisir terjadinya bencana sehingga muncul sebutan bahwa mereka adalah aktivis lingkungan, dan masih banyak sebutan aktivis-aktivis lain untuk orang yang berjuang di bidang tertentu, dimana sebutan itu muncul karena tindakan mereka, perjuangan mereka untuk menegakkan yang hak dan melawan hal yang bersifat bathil. Begitu banyak perjuangan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, tapi manakah yang benar-benar sesuai dengan hakikat kita sebagai muslim yang kita ikrarkan ketika kita mengucap syahadat? Dialah pejuang-pejuang Islam yang senantiasa berjuang menegakkan syariat, Aktivis Dakwah, tidak bosan-bosan saya mengatkan bahwa dia berjuang, hanya mengharap ridho Allah. Jadi segala aktifitas kita adalah dakwah, segala hal yang kita lakukan harus berorientasi dakwah, aktifitas di bidang lingkungan, masyarakat, politik pemerintahan,dan aktifitas lain dimana aktifitas itu untuk melakukan perbaikan umat baik dari aqidah, akhlak, dan sistem yang sesuai syariat Islam. Tapi sebelum melakukan perbaikan pada orang lain, tentu saja dimulai dari perubahan pada diri kita sendri, daripada nanti malah kena “kaburo maktan ‘indawAllahi....(Q.S. Ash-shaff; 3).”
Lalu, siapakah aktivis dakwah itu? Yang katanya berjuang hanya mengharap ridho Allah untuk peradaban Islam, apakah dia(semua orang) yang ikut tarbiyah? Atau dia yang ikut menjadi bagian dari LSM atau keluarga besar gerakan Ikhwanul Muslimin (agaknya kata ini lebih tepat)? Seperti sudah diungkapkan di atas bahwa segala aktifitas kita adalah dakwah, maka sekarang muncullah begitu banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik di bidang masyarakat, lingkungan, bencana, ekonomi, politik seperti Rumah Zakat, PKPU, Dompet Dhuafa, Satu Untuk Jabar, Aksi Cepat Tanggap(ACT), KOMPPI dan masih banyak lainnya. Bagi saya, seorang aktivis dakwah adalah dia yang mau memperjuangkan agama ini dengan sekuat tenaga, dengan ikhlas, tiada sekutu selain Allah. Dia yang akan terlebih dahulu memperbaiki diri lalu memperbaiki orang lain, bukan dengn menghancurkan dan mengganti yang baru tetapi memperbaiki yang sedang rusak. Ibarat komputer rusak, apakah kita akan membuang komputer tersebut dan mengganti komputer tersebut dengan yang baru? Tentu saja tidak, kita malah akan memperbaiki komputer tersebut dengan melihat segi prioritas, komputer mana yang lebih cepat untuk diperbaiki itulah yang akan kita perbaiki terlebih dahulu lalu disusul dengan komputer yang lain. Dialah aktivis dakwah sejati.
Bagi saya ada hal utama yang harus ada di dalam diri para aktivis dakwah, adalah memiliki kekuatan azam kuat untuk berubah dan berjuang. Begitu banyak orang yang berjuang demi negara, lingkungan, demi masyarakat dengan segala kekuatan fisik dan harta bahkan mereka siap berjaga malam tidak tidur (banyaknya ketika bencana alam) untuk berjuang. Itu baru memperjuangkan sebagian hal yang ada dalam perjangan Islam, apalagi kita yang berjuang untuk memperjuangkan agama ini? Maka perjuangan kita harus lebih dari itu semua. Dalam perjuangan itu dituntut keistiqomahan, keikhlasan, dan militansi yang kuat. Karena tanpa hal itu, mungkin kita hanya menjadi kader taklimatan atau aktivis taklimatan, yang berjalan hanya ketika ada taklimat dari murabbi, kalau bukan taklimat tidak mau bergerak, wah kalo udah kayak gini kan berabe, khawatir malah kurang ikhlas, padahal ketika kita sudah berazam kuat maka di depan akan kelihatan ternyata banyak jalan untuk mewujudkan hal itu bahkan mungkin jalan yang orang mengatakan tidak mungkin bisa saja jadi mungkin. Dengan kekuatan azam dan militansi kuat, maka siapapun akan siap dan semakin dan bahkan terus mantab dalam mengarungi jalan samudera dakwah ini, sebuah jalan yang hanya sedikit orangnya, yang penuh dengan tantangan, rintangan, cobaan, fitnah, dan cacian. Seperti yang bisa kita lihat di medan dakwah terdekat kita, kampus, muncul begitu banyak fitnah, cacian, dan hal negatif lain, mulai dari pemilu raya yang pihak-pihak tertentu memfitnah dengan mengatakan bahwa kampus ini hanya dikuasai oleh aktifis masjid, jadi semuanya dikendalikan terserah mereka dan malah tidak mengayomi golongan lain, atau mungkin yang mengatakan bahwa mentoring adalah prosesn perekrutan kader salah satu partai politik, dan banyak fitnah-fitnah yang lain. Bila kita tidak punya azzam yang kuat, maka bisa saja kita tertekan dan akhirnya menyerah dengan keadaan yang ada, padahal amanah dan hal yang harus kita lakukan lebih banyak dan lebih besar daripada hanya memikirkan fitnah-fitnah yang belum tentu kebenarannya itu, bukannya kita lebih baik memikirkan dan melakukan hal yang memang harus kita lakukan dan cukup menjadikan fitnah itu sebagai instrospeksi diri tanpa terlalu menanggapi fitnah itu.

Oleh:
Muhammad Catur Saifudin
Institut Teknologi Telkom
Bandung, 4 November 2010

Rabu, 03 Maret 2010

hasiL keputusan paripurna Century


Jakarta - Mayoritas fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sepakat pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) dan kebijakan bailout Bank Century bermasalah.

Fraksi-fraksi yang menganggap bailout Century bermasalah adalah F-Golkar, F-PKS, F-PDIP, F-Gerindra, dan F-Hanura. Sementara F-Demokrat dan F-PKB berpendapat sebaliknya dimana pengucuran FPJP dan kebijakan bailout merupakan hal yang benar. Dan 2 fraksi lainnya yaitu F-PPP dan F-PAN bersikap netral atau abstain.

Demikian hasil pandangan akhir fraksi yang disampaikan oleh masing-masing juru bicara fraksi dalam sidang Paripurna DPR-RI di Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta, Rabu (03/03/2010).

Kelima fraksi yang sepakat pengucuran FPJP dan kebijakan bailout Bank Century bermasalah secara lantang menegaskan pandangannya untuk memilih opsi C sesuai dengan hasil akhir Pansus Century.

Berikut pandangan akhir masing-masing fraksi yang memilih Opsi C yang menyatakan Kebijakan pemberian FPJP dan penyertaan modal ke Bank Century bermasalah.

F-Golkar :
Patut diduga terjadi penyimpangan, pelanggaran dari sejak proses merger dan akusisi bank CIC, Danpac, dan Bank Pikko menjadi Bank Century. Selain itu pelanggaran dan penyimpangan juga didapati dalam proses pemberian FPJP, pengambilan keputusan bailout, pengucuran PMS serta dalam aliran dana.

"Secara tegas Fraksi Golkar menyatakan untuk memilih opsi C, suara Golkar adalah suara rakyat," ujar Juru Bicara F-Golkar Ibnu Munzir.

F-PKS :
Pandangan akhir ini merupakan penegasan dan penguatan pada sidang-sidang terdahulu. Setelah membaca dan mempelajari opsi, F-PKS meyakini dan memandang bahwa dua opsi itu secara substansial memiliki kesamaan.

"Namun atas hasil Pansus tersebut, PKS berkeyakinan bahwa opsi C yang dipilih dan merupakan yang terbaik bagi sektor keuangan di Republik Indonesia ini," ujar Juru Bicara F-PKS Eki Awal Muharam.

F-PDIP :
Fraksi PDIP pada forum rapat paripurna mempertegas kembali sikapnya terkait kasus Bank Century. Terjadi kuat banyak pelanggaran dan penyimpangan pada tingkat kebijakan. Serta pelanggaran peraturan perbankan, tindak pidana umum serta money laundering (pencucian uang) dan tindak pidana korupsi.

"Semoga kebenaran akan terus terungkap, kami fraksi PDIP akan terus mengawal dan konsisten pada poin C. PDIP juga mendesak agar pihak-pihak yang terlibat langsung atau tidak diproses secara hukum," kata Juru Bicara F-PDIP Puan Maharani.

F-Gerindra :
Pada pandangan akhir fraksi di Paripurna dan sebelumnya juga telah disampaikan pada pandangan awal dan pandangan akhir fraksi di pansus. Gerindra melihat ada indikasi penyimpangan dalam setiap fase dari Bank Century selesai merger hingga pada tahapan sebagai bank gagal dan dinyatakan sisitemik.

"Banyak pelanggaran-pelanggaran seperti pada Keputusan Menkeu dan PBI. Atas dasar itu terhadap opsi yang disampaikan dan dengan mengucap bismilliah maka Gerindra memilih opsi C," ujar Ahmad Muzani juru bicara F-Gerindra.

F. Hanura :
Hanura tidak pernah mundur sedikitpun dimana terdapat pelanggaran undang-undang perbankan sampai bailout dan aliran dana. "Fraksi Hanura menyatakan pilihan pada opsi C," singkat Akbar Faizal juru bicara F-Hanura.

Namun, DPR secara resmi belum mengambil kesimpulan dari pandangan-pandangan akhir fraksi tersebut dikarenakan adanya perbedaan pandangan. Pimpinan DPR masih membahas mekanisme yang diambil dalam menarik kesimpulan akhir.

(dru/dnl)
sumber
detik.com

Rabu, 09 Desember 2009

kasus Century


[Forum-Pembaca-KOMPAS] BLBI dan skandal Century
Sabtu, 28 November, 2009 02:06
Dari:"bungaran"
Kepada:Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com

Konglomerat hitam pengemplang BLBI yang ditangani oleh KPK

1.Syamsul Nursalim,
2.Agus Anwar,
3.Liem Sioe Liong, dan lain-lainnya) ,
4.James Riyadi (kasus penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo, Billy Sindoro terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana waktu itu Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan),
5.Harry Tanoe (kasus NCD Bodong dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK),
6.Tommy Winata (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK),
7.Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat lainnya).
8. Sekitar 100 kasus besar lainya hendak(berhasil) diungkap oleh KPK sebelum terjadi penangkapan terhadap Antasari, Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah.

Barisan konglomerat hitam yang terlibat kasus BLBI itu berjanji akan membiayai pemilu SBY dan partai Demokrat, namun mereka minta agar kasus BLBI, dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK.

Barisan Konglomerat hitam ini juga mengusulkan agar Boediono dijadikan sebagai calon presiden oleh SBY atas jasa-jasanya mengucurkan dana pada kasus BLBI.

Jalur pintas yang mereka tempuh untuk "menghabisi Antasari " adalah lewat media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008 semua wartawan Kepolisian dan wartawan Kejaksaan (sebagian besar adalah wartawan brodex – wartawan yang juga doyan suap) diajak rapat di Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat besar untuk membayar media, di mana tugas media mencari sekecil apapun kesalahan Antasari.

Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada alasan menggusur Antasari.

Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari bukannya malah nurut atau takut, justeru malah terkesan melawan SBY.

Antasari banyak mengetahui bahwa Bank Century telah dijadikan "alat" untuk mengeluarkan duit negara untuk membiayai kampanye SBY dan Partai Demokrat. Antasari tahu alasan SBY dan Partai Demokrat memilih Boediono sebagai calon wakil presiden karena jasanya mengucurkan dana untuk bail-out skandal Bank Century.

Antasari sangat tahu siapa saja operator –operator Century, dimana Sri Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas negara, kemudian Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sampoerna) bertindak sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century, sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya kampanye SBY dan Partai Demokrat.

Dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Paratai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim Sukses SBY.

Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan pemerintah), maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri), yang kabarnya akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh Sumaryono (pejabat Bank Mandiri yang terkenal licin dan korup) untuk memimpin Bank Century saat pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke Bank Century.

Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY.

Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat Antasari.

Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin memang cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus (Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin melaporkan kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia (induk Rajawali Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut, Nasrudin menyanggupi, tetapi dengan catatan Antasari harus menjerat seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan merekomendasarkan ke Menteri BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT RNI, begitu jajaran direksi PT RNI ditangkap KPK.

Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polsi yang mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk bergabung untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan dilaporkan ke Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka skenario pun disusun, dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti untuk menjebak Antasari.

Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan umpan perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh karena itu tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat skenario seolah yang melakukan Antasari.

Agar lebih sempurna, maka dilibatkanlah pengusaha Sigit Hario Wibisono. Mengapa polisi dan kejaksaan memilih Sigit, karena seperti Nasrudin, Sigit adalah kawan Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh Antasari dalam kasus penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400 miliar.

Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari, mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus "dipaksa KPK". Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan Polisi dan Kejaksaan, mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah kemudian Polisi dan Kejaksaan melibatkan Sigit dengan meminta untuk memancing Antasari ke rumahnya, dan diajak ngobrol seputar tekana-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama, yang berkait dengan "terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga Nasrudin.

Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari selama-lamanya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang seperti diajukan polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor Nasrudin bukanlah tiga orang yangs sekarang ditahan polisi, tetapi seorang polisi (Brimob) yang terlatih.

Bibit dan Chandra. Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra? Kepolisian dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan melemah. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk yang rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari ditangkap, Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.

Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus melakukan penyadapan-penyadap an. Nah saat melakukan berbagai penyadapan, KPK membuktikan bahwa Susno yang lagi terima duit dari Budi Sammpoerna sebesar Rp 10 miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau 180 miliar dari Bank Century.

Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran Susno yang telah membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu biar seolah–olah duit komisi), duit itu merupakan pembagian dari hasil jarahan Bank Century untuk para perwira Polri. Hal ini bisa dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi pembobolan duit negara melalui Century oleh inner cycle SBY.

Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui seorang Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra mengeluarkan surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian dibuat Bibit dan Chandra melakukan penyalahgunaan wewenang.

Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat lemah, maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah Antasari dibujuk dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap (dihukum tapi tidak berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa Bibit dan Chandra melakukan pemerasan.

Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah berbagai skenario yang melibatkanAnggodo, karena Angodo juga selama ini sudah biasa menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai mengeluarkan sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media, SBY konon sangat gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan Chandra sangat tahu kasus Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon ditegur habis Presiden SBY agar persoalan tidak meluas, maka ditahanlah Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa diduga, rupanya penahaan Bibit dan Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari publik maka Presiden pun sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk menghubungi para pakar hukum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung, Kapolri, Djoko Suyanto, dan para kongloemrat hitam, serta innercycle SBY (pengumpul duit untuk pemilu legislatif dan presiden).

*dikutip dari berbagai sumber yang terpercaya.