Kamis, 24 Juli 2014

MIMPI ITU BERLABUH DI EROPA (PART 2)

Pada cerita mimpi itu berlabuh di Eropa bagian satu, saya bercerita tentang proses mendapatkan undangan untuk mewujudkan mimpi saya 2013"Go International". ini adalah bagian dua yang bercerita tentang proses selanjutnya. Selamat menikmati. :)


Perahu perjuangan itu berlanjut kepada tahap selanjutnya yaitu mempersiapkan beberapa hal untuk keberangkatan saya ke Jerman. Beberapa hari berlalu, tetapi euforia setelah pengumuman masih terasa, sebuah hal yang kurang baik jikalau terlalu lama euforia tetapi lambat dalam bergerak menyelesaikan urusan didepan. Semua daya berlanjut untuk meyusun sebuah timeline sederhana menuju Jerman di akhir Mei 2013. Hanya dalam hitungan hari, group Facebook dan Whatsapp Delegasi Indonesia untuk ISWI 2013 telah ada. Telisik demi telisik, teryata perwakilan dari IT Telkom ada dua orang, yaitu saya dan Gigih Septianto yang saat itu menjabat sebagai Mentri Pengabdian masyarakat BEM KBM IT Telkom 2012. Segeralah dijalin komunikasi untuk kolaborasi demi semakin melancarkan rencana kedepan, diskusi kecil untuk pembuatan timeline dan pembagian kerja dilakukan.
Tidak salah lagi, dengan dua orang pekerjaan semakin ringan, untuk proposal kami sepakat membagi kerja, saya membuat content dan Gigih membuat designnya. Proses pengerjaan saya lakukan, agaknya, jurus jitu pekerjaan secara paralel perlu kembali dilakukan, yang terdekat adalah pembuatan content proposal dan paspor. Sebuah hukum alam bahwa dalam kerjasama ada sebuah kendala, karena kondisi diri terutama kesibukan kita berbeda-beda, setelah content selesai ternyata Gigih sedang sibuk menyelesaikan hal lain sehingga pengerjaan sempat molor dari timeline. Tetapi alhamdulillah tidak terlalu berdampak pada proses pencarian sponsor, kalau ada rekan-rekan yang berminat dapet proposal saya bisa menghubungi saya di 085258434484. Ditengah-tengah penyelesaian proposal, saya sempatkan membuat paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Bandung dengan sistem online karena berdasar yang saya baca di internet dan hasil diskusi dirasa lebih mudah dan cepat selesai. Saat itu saya registrasi online hari ahad 17 Maret 2013 dengan menyertakan hasil scan administrasi seperti KK, KTP, dan akte kelahiran, ternyata jadwalnya sangat penuh sehingga baru dapat jadwal kosong pada Jum’at, 22 maret 2013. Sayapun datang pada jadwal registrasi, dan pada siang di hari yang sama saya segera menelesaikan proses administrasi (bayar dan membawa berkas yang sudah diupload saat registrasi online), foto, sidik jari, dan wawancara, setelah proses selesai, pegawai imigrasi menyatakan bahwa paspor saya akan selesai pada Rabu, 27 Maret 2013. “Oke, batch 1 alhamdulillah lancar dengan tidak terlalu banyak kendala” gumamku dalam hati.
Life is never flat!” kata sebuah iklan makanan ringan di televisi, sebuah kata-kata yang perlu pemaknaan mendalam atas realita kehidupan. Hidup ini tidak akan terus menerus berisi penderitaan juga tidak akan terus menerus berisi kenikmatan, semua ada masanya, kemarau tidak akan terus datang, suatu saat pasti kemarau akan berakhir dan akan turun hujan sebagai berkah atas kesabaran di panjangnya kemarau.

 Proposal telah selesai dikerjakan baik dalam content maupun design, dimulai proses pengajuan ke Bagian Kemahasiswaan. Disertai dengan beberapa proposal full colour dan surat pengantar untuk beberapa instansi, kami maju untuk mencoba bertemu dan berdiskusi. Setelah beberapa kali bertemu dan bolak-balik memperbaiki surat dan proposal seperti requirmentnya, kami merasa bahwa sikap yang diberikan oleh pihak BK bersifat dualisme dan kurang tegas, disatu sisi kami diminta ke pihak fakultas dan mengkomunikasikan ke dekan, wakil dekan 1 bidang akademik dan kemahasiswaan juga pada kepala prodi, tetapi dilain sisi katanya beliau akan mengkomunikasikan dengan pihak warek 1. Karena waktu semakin habis dan kami sudah cukup terbiasa bermain dengan birokrasi, pada akhirnya kami menempuh jalur yang kami rasa lebih cepat dan lebih simple. “Syukurlah, apa yang aku duga terjadi benar!” ungkapku dalam hati. Setelah bertemu dengan dekan untuk meminta tanda tangan di proposal dan surat pengantar dibonusi dengan sedikit diskusi  yang sayapun sudah tahu jawabannya bahwa fakultas tidak ada alokasi dana untuk kegiatan konferensi semacam ini, “Tapi tanda tangan ini sudah cukup pak, mohon doanya saja!” ungkapku kepada dekan Fakultas Elektro dan Komunikasi IT Telkom (yang sekarang jadi Universitas Telkom), Ali Muayyadi. Memang benar kata sebuah kata bijak, “Jangan hanya kerja keras, tapi juga kerja cerdas, tuntas, dan ikhlas.”

 Berbekal proposal dan surat pengantar yang telah ditandatangani oleh dekan Fakultas Elko, pada fase awal tepatnya medio April 2013 kami berbagi tugas untuk menyebar proposal kepada pihak-pihak yang kami anggap potensial, diantaranya PT. Telkom Tbk., Forum Alumni Institut Teknologi Telkom (FAST), Bank seperti BNI, Mandiri, Bank Jabar Banten, Yayasan seperti Yayasan Pendidikan Telkom, FAST Foundation, dan yayasan Aksari, Pemerintah daerah tempat kami bermukim juga tak ketinggalan untuk dicoba yaitu Pemerintah Kabupaten Bandung dan Pemerintah Kabupaten Lumajang. “Keoptimisan harus 100%”, kataku. Ketika menyebarkan proposal sponsor (inget ya! Proposal Sponsor :p), ada beberapa tips dan trik yang coba saya lakukan. Pertama, sebesar atau sekecil apapun, cobalah dari instansi terdekat kita, misalkan di kampus negeri cobalah dulu di Fakultas, rektorat, bahkan temui rektornya, kalau dikampus swasta selain rektornya temui ketua yayasan yang menaungi kampusnya. Kedua, saya selalu berusaha langsung menemui kepala bidang yang memberi keputusan bersedia membantu atau tidak, memang tidak semuanya bisa langsung ditemui seperti ini tapi biasanya kalau di resepsionis kita mengatakan akan menemui kepala bidang CDC atau bidang tertentu, jadi tujuan kita bukan hanya mengantarkan proposal (kalo ini biasanya hanya akan sampai di meja resepsionis lantai 1), tetapi menemui pak fulan atau kepala bidang tertentu dan jangan lupa untuk selalu meminta contact person agar tidak di PHP-in (Pemberi Harapan Palsu), makanya sebelum memberikan proposal perlu dipelajari dulu kebiasaan instansi tersebut agar proposal kita lebih cepat diproses J. Ketiga, rajin-rajinlah konfirmasi, karena proposal di instansi tersebut sangat banyak, sehingga dengan semakin seringnya konfirmasi maka akan memperbesar peluang diperhatikannya proposal kita. Keempat, pergunakan jaringan/channel yang dipunya, setidaknya dapat lebih cepat memberikan penjelasan memungkinkan untuk dapat bantuan atau tidak.
Penyebaran proposal di fase pertama telah dilakukan, tidak terlalu banyak kendala memang, hanya berputar-putar pada komunikasi diantara kami berdua. Proses selanjutnya adalah konfirmasi, perjuangan semakin terasa ditahap ini. Beberapa instansi menjanjikan ada yang konfirmasi dilakukan dua minggu, satu bulan, dan varian lainnya tergantung kebijakan instansi. Pertama kali dilakukan konfirmasipun tidak semuanya langsung memberikan jawaban memberikan bantuan atau tidak, lebih banyak instansi yang menggantungkan nasib pejuang dana terebut dengan kondisi yang berbeda, ada yang mengatakan bagian tersebut yang mengurusi sedang tidak ditempat, belum diputuskan (padahal yang ngasih tanggal konfirmasi juga mereka, kenapa belum diputuskan? Aneh sekali!!), cukup menyakitkan memang tapi setiap peristiwa harus memberikan pelajaran bagi kita, pada akhirnya kita mengetahui dengan sendirinya bahwa instansi kita seperti itu. Semakin sering telepon sponsor untuk konfirmasi, emosi semakin naik-turun, deg-degan ketika telepon menunggu jawaban dan setelah mendengar jawaban semakin ciut hati ini karena di fase awal ternyata belum ada proposal yang berhasil mendapatkan dana.
Waktu kurang dari sebulan, baik di grup WhatsApp atau Facebook teman-teman delegasi sudah banyak yang mendapatkan dana, ada yang sudah full ada juga yang belum, ada juga yang sedang melakukan proses visa schengen (terkenal ribet), bahkan ada yang visa sudah jadi, dan lebih akstreemnya ada yang sudah siap berangkat. Dititik itu, Kas tabungan masih Rp 0,- visa belum proses, dan waktu makin mepet. Akhirnya saya meyakini bahwa keberhasilan itu 90% ditentukan oleh emosi dan 10% fikiran. Maka demi mimpi yang bukan hanya untuk saya tapi juga untuk orang lain, saya berusaha menaikkan emosi saya dengan membaca beberapa artikel tentang perjuangan anak muda Indonesia yang sudah mengalami hal yang sama dengan saya dan mereka berjuang hingga menemui titik akhir, dan sejauh yang saya baca mereka berhasil pergi ke eropa, selain itu saya juga mendengarkan lagu-lagu yang dapat memperbesar optimisme seperti I won’t give up (Jason Mraz), Don’t Give up, I still believe (Maria Carey), When you Believe, Jangan Menyerah (D’masiv), Miracle (Cristian Bautista), Tetaplah Berdiri (Nineball), Ini Mimpiku (Claudia Sinaga), Sang Pemimpi (Gigi), dan beberapa lagu yang lain, saya mendengarkan baik dirumah maupun ketika diperjalanan motor menuju suatu tempat. Selain itu, saya juga download beberapa gambar yang menurut saya dapat memotivasi untuk terus bergerak dan menempelnya dikamar serta menjadikannya wallpaper di laptop, HP, dll. Dan tak lupa, sebagai seorang muslim dan bukan sekuler, untuk menaikkan emosi, memperbesar harapan, saya senantiasa berusaha menggantungkan semua usaha kepada Allah semata sebagai upaya perbaikan diri, upaya memperbanyak amalan seperti amalan sunah, tilawah, sedekah uang dan tenaga dengan cara membantu semakin banyak orang saya lakukan, sahabat saya mengistilahkan palugada (lw mau minta tolong apa gw ada-bisa).

Selama masih ada peluang, sekecil apapun, saya akan terus bergerak dan berusaha melakukannya. Dengan kondisi tersebut saya mulai memproses pembuatan visa schengen diawal Mei dengan cara membuat online appointment terlebih dahulu, sebelum membuat saya sempat berfikir bahwa paling tidak saya akan mendapatkan jadwal sekitar tanggal 15, ternyata salah besar, ini musim liburan banyak yang sedang apply visa untuk liburan musim panas, sehingga saya baru mendapatkan jadwal membuat visa pada 21 Mei 2013, padahal acaranya dimulai 31 Mei, saya juga belum tahu berapa lama proses pembuatannya, wew yasudah, bismillah sajalah. Sebagai sebuah tim, saya segera memberitahukan rekan tim saya, Gigih untuk segera membuat online appointment visa Schengen. Selama proses penungguan pembuatan visa, saya masih berusaha membuat proposal dan mengirimkan lagi ke instansi lain. Selain itu, saya juga berusaha tidak lupa mengerjakan Tugas Akhir yang sedikit kurang terurus karena terlalu fokus di mencari dana, karena ini juga merupakan amanah orang tua.
Waktu semakin terasa panjang, selain waktu disiang hari digunakan untuk masuk kuliah karena mengehemat jatah bolos dan mengerjakan tugas juga digunakan berjuang mencari dana, mengurus keperluan untuk visa, sedangkan waktu malam selain digunakan untuk mengerjakan tugas juga mengerjakan tugas akhir serta menyusun strategi untuk besok. H-1 tanggal membuat visa telah datang, ternyata dihari Senin masih banyak keperluan visa yang belum selesai. Bukti bookingan pesawat, fotokopi rekening orang tua, rekening koran tabungan saya, dll. Sempat khawatir begitu banyak yang perlu diurus tidak selesai dalam waktu yang sangat singkat apalagi di pagi itu saya harus kuliah terlebih dahulu dan baru benar-benar mengurus pasca itu, tapi entah kenapa hati ini tetap tenang dan optimis bahwa semuanya dapat selesai. Ba’da dhuhur, sekitar jam12 saya keluar kosan untuk mengurus beberapa hal tersebut, alhamdulillah setelah melakukan pembookingan pesawat di salah satu agen perjalanan, tetapi karena belum ada uang terpaksa saya hanya membooking tiket pesawat itu tapi belum tentu akan membelinya, saya beranjak mengurus hal kedua yaitu pencetakan rekening koran saya, beberapa rekan yang sudah selesai membuat visa mengatakan bahwa baiknya minimal di rekening ada uang minimal 15juta, saya menghubungi orang tua untuk meminjam uang sebesar itu hanya untuk mencetak rekening koran pasca itu uang akan segera dikembalikan. Orang tua mengabarkan telah mengirim uang dan sayapun bergegas ke Bank M*andiri terdekat untuk mencetak rekening koran. Saat diperjalanan, jam ditangan sudah menunjukkan pukul 14.59 WIB, padahal masih belum sampai di Bank, mengingat Bank tutup jam15.00 saya segera memacu motor lebih kencang untuk meluncur ke TKP, ditengah perjalanan tiba-tiba ban bocor dan harus mendorong sampai depan motor, tanpa banyak berfikir, saya segera mendorong motor hingga sekitar 10menit telah sampa di depan Bank. Saya sampai di depan Bank sekitar jam15.25, tanpa banyak bicara saya bergegas masuk kedalam Bank tersebut dengan harapan bahwa Bank belum tutup, saat masuk ternyata masih banyak yang mengantri dan satpam mengijinkan saya untuk mengantri. Tidak lama duduk manis mengantri di Customer Service, ada orang yang masuk dan juga mau mengantri tetapi tidak diperbolehkan oleh satpam dengan alasan Bank sudah mau tutup, Allah kembali menunjukkan campur tanganNya dalam urusan hambanya yang fakir ini.
Gerbang masuk Kedubes Jerman

Malam harinya sayapun segera pergi ke Jakarta dengan berbagai persyaratan membuat Visa, saat berada di Jakarta saya menumpang di salah satu sahabat saya Rizal Firdaus a.k.a. Rizal Tarmizie  melanjutkan aktifitas lain. Setelah sarapan saya mengunjungi. Mentari di Jakarta segera muncul, sesuai dengan jadwal yang telah saya plot di web Kantor Kedutaan Besar (kedubes) Jerman www.jakarta.diplo.de saya segera menuju kedubes yang beralamat di jalan M.H. Thamrin nomor 1 Jakarta Pusat. Ketika berada disana, dengan pengamanan yang cukup ketat, sayapun masuk dengan segala persyaratan, ketika berada di loket katanya masih ada yang kurang yaitu asuransi yang tidak tercover selama beberapa hari diluar kegiatan, saya memplot waktu 2hari setelah kegiatan untuk jalan-jalan ke beberapa kota di Jerman, dan asuransi tersebut dapat menyusul di kemudian hari. Proses pengajuan visa telah selesai, saya bergegas mencari sarapan untuk semakin menguatkan fisik saya.. Diterik panasnya mentari Jakarta, saya terus melangkahkan kaki mencari peruntungan di tengah egoisme gedung-gedung menjulang tinggi untuk menuju ke beberapa calon sponsor yang memang sudah dibidik sebelum berangkat ke Jakarta. Saya menuju ke beberapa yayasan Jerman tetapi ada yang alamatnya salah, ada pula yang bosnya sedang keluar negeri. Setelah berputar-putar, ternyata hasilnya masih saja beloum pasti karena baru mengantarkan proposal ke beberapa sponsor.
Untuk memenuhi persayaratan visa yang kurang, yaitu asuransi, saya menuju ke salah satu lembaga asuransi di Bandung dan kembali pergi ke Jakarta untuk mengantarkan itu ke kedubes Jerman. Pasca mengantar itu, saya kembali berjuang ke beberapa sponsor untuk mencari peruntungan, termasuk salah satunya memanfaatkan senior yang bekerja di perusahan di perusahaan untuk membukakan jalan mendapatkan sponsor seperti Telkom*el, X*, dan perusahaan lain.
Rabu, waktu menuju acara tinggal 3hari lagi, tapi belum dapat uang sepeserpun, ada perasaan khawatir tetapi saya sudah menyiapkan mental tentang kemungkinan semua yang akan terjadi. Melihat semua yang saya lakukan, orangtua merasa tidak sampai hati jika ternyata saya tidak sampai berangkat ke Jerman,dan akhirnya keluar dari perkataan mereka, “Kalau memang kamu sangat ingin berangkat, kami akan tanggung semua biayanya” tapi dengan tegas saya katakan kepada mereka, “Jika saya tidak mendapatkan sponsor, saya memilih untuk tidak berangkat apalagi jika harus memakai uang orang tua” Peristiwa saat itu benar-benar sangat emosional.

Sembari terus berusaha menelfon semua kontak sponsor yang saya punya, ada yang tegas mengatakan tidak bisa memberi sponsor adapula yang masih menggantungkan jawaban mereka. Saya akhirnya memutuskan untuk bertemu langsung dengan ketua Yayasan Pendidikan Telkom (YPT), bapak Jony Girsang. Sesampainya di kantor, saya menemui sekretaris pribadi beliau dan minta izin bertemu, ternyata beliau sedang rapat dan katanya setelah itupun beliau harus segera pergi ke Jakarta untuk suatu urusan, saya memilih untuk menunggu dan nekat bertemu walapun hanaya sebentar. Beberapa jam kemudian rapat selesai dan saya segera menghampiri beliau dan mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud bertemu, itupun saya lakukan sembari berdiri karena belia terlihat tergesa-gesa ke Jakarta, dengan kerendahan hati beliau bersedia berbicara sambil menuju ke mobil. Di akhir pembicaraan, beliau memberi angin segar dengan mengatakan bahwa beliau akan memberi dana jika mendapat surat rekomendasi dari rektor IT Telkom, hal itu semacam angin segar di tengah gersangnya padang pasir, tak merubah gersangnya tapi menyejukkan dan menenangkan.
Keesokan harinya, jadwal  kuliah cukup padat dan jadwal membolos sudah tipis, terpaksa baru bisa siang mencari rektor. Di siang itu, saya menuju ke gedung rektorat dan ternyata tak ditemukan sama sekali pejabat kampus baik rektor ataupun wakil rektor. Sedikit panik dengan hal itu, saya mencoba bertanya ke sekretaris pribadi rektor dan ternyata seluruh pejabat sedang rapat untuk kegiatan kompetisi roket nasional yang diselenggarakan oleh kampus saya dan mereka juga tidak tahu kapan selesai rapatnya. Saya mencoba menunggu, tetapi kembalia da jam kuliah akhirnya saya harus menghadirkan fisik saya dikelas untuk mendengarkan kuliah walaupun sebenarnya fikiran saya sedang berusaha bertahan dan mencari solusi atas kondisi H-2 acara. Sepulang kuliah telah magrib dan seluruh staf rektorat telah pulang, itu artinya hanya tersisa 1hari, yaitu besok Jum’at untuk berjuang, karena sebenarnya acara dimulai hari Sabtu di Jerman.
Tertera bahwa Visa saya telah jadi dan bisa diambil  pada Jum’at di Jakarta, uang belum dapat sepeserpun, besok masih harus mencari surat rekomendasi dari rektor untuk diajukan ke Ketua YPT. Semua hal itu harus dilakukan dalam 24jam kedepan, jika masih berharap untuk menginjakkan kaki di tanah Jerman 2013 ini. Dengan kondisi tertekan seperti itu, saya berusaha tenang dan mencari solusi. Akhirnya, saya memutuskan untuk malam harinya ke Jakarta untuk memberikan surat kuasa kepada rekan saya, Rizal untuk meminta tolong mengambilkan paspor yang didalamnya visa saya telah jadi. Tepat pada jam9 saya pergi ke Jakarta dan telah sampai pada jam00.30 Jum’at dinihari, setelah bertemu dengan Rizal saya segera menuju ke tempat pemberhentian bus untuk menunggu bus guna langsung kembali ke Bandung melancarkan misi berikutnya.
Cerahnya mentari di hari Jum’at menyambutku saat baru saja sampai di Bandung saya segera pergi ke rektorat untuk bertemu rektor atau pejabat lainnya, ternyata seluruh pejabat tidak ada, rektor telah berangkat ke Belanda untuk sebuah urusan sedangkan rektor pelaksana harian, wakil rektor 1 sedang berada di pelosok Garut untuk melakukan pengecekan sebelum kegiatan kompetisi roket nasional. Saya ke kantor YPT memberitahukan kondisinya dan pihak YPT masih keukeuh bahwa harus ada surat rekomendasi tersebut karena tidak mau loncat kebijakan khawatir terjadi perselisihan antar lembaga. Saya mencoba menghubungi wakil rektor 1 dengan mengirimkan pesan untuk bertanya posisi dan maksud saya ingin bertemu untuk meminta tanda tangan surat rekomendasi, lama sekali tidak dibalas, ditelfon juga tidak diangkat. Saya sangat bingung dengan kondisi tersebut, bingung untuk menghubungi siapa lagi, dalam kebingungan itu saya masih terus berusaha yakin dan optimis bahwa Allah akan menolong hambanya.
Adzan Jum’at berkumandang, dengan badan sedikit lemas karena kurang tidur dan tertekan dengan kondisi saya melangkahkan kaki ke masjid untuk melaksanakan sholat dan meminta untuk dikuatkan dan diberikan solusi atas permasalahan yang sedang dihubungi.
Selesai sholat Jum’at entah kenapa saya ingin pergi ke kantor YPT tanpa tujuan yang jelas, dengan badan yang masih juga lemas saya menaiki motor dan menuju kantor YPT. Ditengah perjalanan tiba-tiba Bu Retno, manager kemahasiswaan menelfon saya, dengan nada semangat saya mengangkatnya, ternyata beliau menanyakan perihal surat rekomendasi itu, saya mengutarakan tentang surat itu dan mengatakan bantuan yang saya harapkan. Bu Retno masih sedikit bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba telfon mati. Tidak lama berselang wakil rektor 1 menelfon saya dan menanyakan hal yang sama, dengan sedikit gugup menata kata-kata agar udah dimengerti saya mengutarakan maksud surat rekomendasi dan harapan yang saya harapkan dari wakil rektor 1. Setelah menangkap maksudnya, beliau memberikan petunjuk, bahwa saya diminta untuk menemui wakil rektor 3 untuk mewakilkan tanda tangan atas nama rektor di surat rekomendasi tersebut, mendengar pernyataan tersebut sendi-sendi badan yang awalnya lemas terasa dikuatkan dan saya langsung melakukan sujud syukur seakan tak percaya tentang hal yang sedang terjadi.
Surat Rekomendasi dari Rektor

Dengan mata berbinar-binar karena semangat dan ingin semuanya sepat diselesaikan, saya bergegas kembali ke kampus, print surat rekomendasi tersebut dan segera menemui wakil rektor 3 untuk meminta tanda tangan. Surat rekomendasi telah jadi, segeralah surat itu saya bawa ke ketua YPT. Setelah mengobrol dan mengecek harga tiket ke Jerman, akhirnya sesuai janjinya beliau bersedia memberikan bantuan dana untuk tiket pesawat. Yeay!! ;)
Sepulang dari kantor YPT, saya segera pergi ke Trans Studio Mall (TSM) untuk pergi membeli tiket pesawat ke Jerman di Vayatour. Tak lama kemudian, saya mendapatkan bookingan tiket maskapai Qatar Qirways dengan jurusan Frankfurt yang akan berangkat besok, iya besok, pada Sabtu malam jam23.30 WIB.
Tiket dan paspor


Yeay!! Alhamdulilah.... Semua seakan mimpi yang terjadi begitu cepat. Keesokan harinya saya terbang ke Jerman alhamdulillah dengan selamat, perjuangan selama beberapa bulan terbayar sudah.
Ketika pada akhirnya kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tanpa henti, dan sabar untuk sebuah tujuan, sesungguhnya kerja-kerja itu akan berbuah menjadi keajaiban yang akan kita nikmati cepat atau lebih cepat. ;)
Dan, sayapun meyakini bahwa sampainya saya di eropa pada 2013 itu bukan karena usaha beberapa bulan saja, tetapi usaha bertahun-tahun ke belakang tentang mimpi yang terwujud sedikit demi sedikit, hingga akhirnya berakumulasi menjadi sebuah mimpi Go International 2013.
Maka, berbanggalah dengan setiap kemajuan dalam diri kita.

“Jika kita mempunyai keinginan yang kuat dari dalam hati,
maka seluruh alam semesta akan bahu-membahu mewujudkannya.”
(Ir. Soekarno)

“Anak-anak yang melihat dunia, akan terbuka matanya dan memakai nuraninya
saat memimpin bangsa dimasa depan.”
-Prof. Rhenald Kasali-

Bagi rekan-rekan yang ingin meminta contoh proposal, essay, ataupun berkas contoh terkait cerita ini, silahkan hubungi saya di @catur_ms atau mcatursaifudin@gmail.com
Semoga bermanfaat. :)

Jumat, 27 Juni 2014

Akhirnya, Kuputuskan Mendaftar Pengajar Muda VIII Indonesia Mengajar



             

            Lulus dan mendapatkan gelar sarjana menjadi harapan begitu banyak orang, tetapi hal yang akan dilakukan pasca itu menjadi salah satu milestone dalam hidup, karena saat itu kita akan memilih baik dalam jangka panjang atau pendek tentang kehidupan kita pasca mendapatkan begitu banyak masukan “kata-kata positif” ketika kita kuliah, baik itu dari senior ataupun dari junior, ya inilah awal memasuki dunia sebenarnya.
            Sayapun mengalami masa dimana ada begitu banyak pilihan di depan mata pasca mendapatkan gelar Sarjana Teknik di jurusan Teknik Telekomunikasi di Universitas Telkom d.h. Institut Teknologi Telkom. Sidang di bulan September 2013, sayapun sempat kepikiran untuk lanjut S2 di luar negeri jurusan manajemen, langsung pulang ke kampung halaman, Lumajang untuk beraktifitas disana, bekerja baik itu di Lumajang/kota lain. Kebimbangan itu berhenti saat ada tawaran untuk menjadi salah satu atlet pada “Ekspedisi Astacala 2013: Facing Giant Rock!”, untuk mengibarkan merah putih pertama di Tebing Batu Lawi, Sarawak, Malaysia pada November 2013, dimasa hingga pemberangkatan saya menyibukkan diri dengan persiapan seperti berlatih komunikasi radio, izin, dan beberapa hal lain. Ditengah persiapan itu, saya mendapatkan info lewat twitter bahwa ada pendaftaran Pengajar Muda (PM) VIII Indonesia Mengajar (IM), sebuah mimpi yang dulu sempat saya tanamkan dalam diri pada 2010, saya saat itu belum memiliki alasan yang benar-benar bulat kenapa mendaftar, tetapi saya meyakini bahwa hadir dan mengabdi di daerah terpencil Indonesia itu adalah hal baik dan lagi IM kan punya nama besar dengan reputasi baik pasti bisa mendapatkan banyak hal. Akhirnya saya mendaftar dan mengisi beberapa form yang singkat seperti nama, tempat tanggal lahir, kuliah, saat mengisinya sempat merasa minder karena IPK kurang dari 3, tapi yasudahlah dicoba dulu saja, yang penting niat awal untuk mencoba baik. Hingga masuk pada poin kelima tentang esai, karena begitu banyak dan panjang serta butuh perenungan tentang esai tersebut, saya memutuskan untuk menunda pengerjaannya.

Halaman Web Pendaftaran Pengajar Muda VIII

            Pengerjaan esai benar-benar tertunda saat saya terbang ke Malaysia untuk melaksanakan ekspedisi, saya menjadi tim basecamp yang bertugas untuk menghubungkan rekan-rekan di lapangan dengan sekretariat Astacala dengan menggunakan radio amatir dan juga melakukan penelitian tentang masyarakat adat serta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Bario, Sarawak, Malaysia. Mereka sangat ramah dan membantu sesuai kemampuan mereka, baik bantuan moril maupun materi, walaupun mungkin saat itu mereka sedang tidak punya uang untuk melayani kita, mereka berusaha meminjam uang di kedai (warung, kafe-red) atau menarik iuran dari rekan-rekan sesama TKI, kebaikan dan ketulusan mereka sangat menyentuh. Sayapun melakukan penelitian tentang kehidupan TKI disana, saya mengikuti aktifitas mereka seharin, dari bangun di pagi hari sampai kembali tidur. Beberapa rekan menjadi TKI karena alasan ekonomi tetapi ada juga yang karena memiliki masalah dirumah dan dikejar-kejar oleh aparat kepolisian dan kepergiannya menjadi TKI sebagai pelarian dari masalah yang dihadapinya, ada juga yang karena mencari pengalaman. Sebelum pada akhirnya ditempat ini (Bario-red), alih-alih mencari tempat yang lebih nyaman, ternyata mereka malah diperlakukan hal yang tidak sepatutnya, telat mendapatkan gaji bahkan tidak sedikit yang kerja tidak dibayar, ditipu agen penyalur TKI dengan diambil gaji 60%, dikajr-kejar oleh Bagian Imigrasi Malaysia, paspor ditahan, tidak diberi makan oleh bos, dan berbagai perlakuan yang lain. Hingga pada akhirnya ada rekan yang mengajak untuk pergi ke Bario, dari segi gaji Bario memang lebih besar, tetapi hal itu membuat mereka semakin terlena, hampir setiap malam mereka mabuk di kedai (kafe-red), memiliki teman perempuan disini walaupun sebenarnya di kampung halaman telah memiliki istri, dan tak sedikit yang pada akhirnya harus bercerai karena masing-masing mereka telah memiliki pasangan lagi. Dalam kerasnya kehidupan, mereka masih saja menebarkan kebahagiaan dengan penuh ketulusan.
            Di titik itu, saya berefleksi bahwa, anak-anak di daerah harus dinaikkan derajat mereka dan salah satu faktor penting dalam hal itu adalah pendidikan, mereka harus mendapatkan pendidikan yang baik, yang bukan hanya pada aspek pengetahuan tapi juga tentang perilaku. Hati kecil saya menjerit keras tentang apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mereka.
Sesampainya di Indonesia, pencarian itu berujung pada semakin bulatnya hati untuk mendaftar sebagai PM VIII, karena berfikir bahwa pencarian itu menjadi salah satu tujuan adanya gerakan ini.
Ketika pada aakhirnya memutuskan mendaftar, hal ini diberiathukan pada oranag tua, ternyata keluarga besar menolak dengan keras bahkan saya dikeluarkan dari group “WhatsApp Family” salah satu kakak meng-unfriend saya di Facebook, bahkan ada perkataan dari Bapak saya, “Kalau masih ingat sama bapak,gak perlu daftar IM!” Ditengah chaosnya hal yang terjadi, dengan keyakinan bahwa yang saya lakukan adalah hal baik dan dengan niat baik, saya masih meneruskan proses pendafaran PM VIII dan berusaha mengakomodir keinginan orang tua untuk segera bekerja. Alhamdulillah pasca mendapat pekerjaan di salah satu perusahan Telekomunikasi swasta di Bandung, suasana hati orang tua mulai membaik, hingga pada akhirnya dinyatakan diterima sebagai Calon PM VIII, saya pulang dan menjelaskan kepada orang tua tentang kegiatan IM ini, tujuannya, apa yang saya inginkan, dan alhamdulillah disetujui walaupun masih terlihat begitu banyak pertanyaan dan menyayangkan kenapa keputusan masuk IM saya ambil, dengan berat hati orang tua mengizinkan dan melepas kepergian saya ke Jakarta untuk pelatihan.
Dan ketika berada di pelatihan saya sering melakukan komunikasi dengan orang tua walaupun hanya sebentar, dan saya benar-benar lega ketika pada pekan ke-8 bapak menelfon saya dengan waktu yang cukup lama, saat itu saya menceritakan bahwa pagi tadi saya dilantik dan telah resmi menjadi Pengajar Muda VIII, hari Minggu depan akan diberangkatkan ke Bima, Nusa Tenggara Barat untuk mengabdi selama satu tahun, Bapak tiba-tiba berkata, “hati-hati disana, dan Selamat Bertugas!” Sebuah kalimat singkat tetapi sangat dalam, sebuah kalimat supportif atas sebuah keputusan kontroversial pilihan anak yang awalnya ditolak dengan sangat keras.
Keluarga Inspirasiku

Disitu saya belajar bahwa ketika niat kita baik dalam melakukan sesuatu, orang tua sebenarnya tahu bahwa hal yang kita lakukan adalah baik, tetapi karena ingin melihat anaknya hidup bahagia dan sejahtera, dan mereka tidak melihat itu pada pilihan hidup kita, sangat wajar jika mereka menolak, dan saat kita kuat dengan pilihan kita dan sabar menjelaskan alasan pengambilan keputusan kepada orang tua saya yakin respon orang tua juga akan sama.
Dan hari ini, adalah H-3 pemberangkatan saya ke Bima, sebuah tempat yang akan menjadi tempat belajar dan berbagi disana selama satu tahun. Teriring do’a semoga niat ini terus diluruskan, dimaksimalkan usaha saya, dan tetap rendah hati dalam melaksanakannya. Selalu ingat bahwa selama  setahun nanti jika ada pahala, semua akan terus mengalir untuk kedua orang tua.
Hangatnya suasana di Wisma Handayani, Jakarta Selatan
12 Juni 2014

Essay Mendaftar Pengajar Muda VIII Indonesia Mengajar



Foto Pengajar Muda VIII


          Ini adalah Essay yang saya kirimkan sat mendaftar sebagai Pengajar Muda VIII Indonesia Mengajar, dan alhamdulillah saya diterima dalam rekruitasi ini. Tetapi essay ini tidak lengkap, jadi jika ingin mendapatkan versi lengkapnya, silahkan hubungi saya via
email: mcatursaifudin@gmail.com atau twitter @catur_ms


Pengalaman Organisasi Dalam kampus dan Kontribusi Terbesar yang Anda Berikan?

Pengalaman selama menjadi Menteri Pengabdian Masyarakat BEM IT Telkom 2010
Sejak BEM lahir hingga 2009, setiap terjadi bencana UKM/Ormawa di IT Telkom bergerak sendiri-sendiri untuk membantu. Untuk memberikan dampak yang lebih besar, saat di BEM 2010 saya mengumpulkan kawan-kawan Korps Sukarela (KSR) PMI ITT dan Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam IT Telkom (Astacala) untuk membicarakan fenomena bencana dan kontribusi mahasiswa ITT. Saat itulah dicetuskan Badan Tanggap Bencana IT Telkom dan dibuatlah Standard Operational Procedure (SOP) dengan pembagian BEM pada tataran pencarian dana dan hubungan ke rektorat untuk Astacala dan KSR pada tataran teknis. Selama 2010, BTB telah membantu tenaga relawan, dana, dan juga logistik di bencana Mentawai, Merapi, dan banjir Dayeuhkolot.

Pengalaman selama menjadi  Kepala HRD BEM IT Telkom 2012
HRD fokus penjagaan dan pengembangan  SDM, selama di BEM, kegiatan yang dilakukan oleh HRD hanya berfokus pada pengembangan pengetahuan dan keakraban saja. Menurut saya seorang pengurus BEM juga harus memiliki ketangguhan dan grass root understanding tinggi, karena mereka akan menghadapi banyak tantangan dan mereka adalah pemimpin yang punya rakyat. Untuk ketangguhan, saya memberikan ide mengadakan long march selama 6jam sebagai bekal sebelum menjadi pengurus BEM. Untuk grass root understanding, saya memberikan ide mengadakan BEM Changemaker, program menginap,beraktifitas,dan berkontribusi di desa terpencil. Dengan harapan bahwa mereka telah melewati hal sulit ini,sehingga di BEM mereka tidak mengeluh tapi bersyukur atas suatu kondisi.

Pengalaman saat menjadi Dewan Pengurus Astacala
Astacala memiliki standar operasional procedure berkegiatan alam bebas yang aman. Banyak sisi positif yang tidak terekspos organisasi ini,sosmed mati dipegang senior yang tidak dikampus. Saya baru saja menjadi Dewan Pengurus 2013 berinisiatif menghidupkan dan menjadikan Astacala lebih terbuka dengan menjadi admin Facebook,Twitter,dan Youtube. Di akun ini, saya berusaha berbagi dan mengajak Astacalaers untuk terlibat sharing ke publik tentang aktifitas organisasi dan ilmu alam bebas seperti safety procedure,Navigasi Darat, Fotografi,dll. Masyarakat kampus dan luar kampus mendapat banyak informasi tentang kegiatan Astacala dan ilmu berkegiatan alam bebas,banyak orang yang share dan retweet, bahkan sekali posting yang melihat postingan itu bisa sampai 1000.

Selain itu ada juga :

Pengalaman Organisasi Luar kampus dan Kontribusi Terbesar yang Anda Berikan?

Pengalaman Kepanitiaan dan Kontribusi Terbesar yang Anda Berikan? 

Untuk dua pertanyaan ini ada di essay lengkap saya, kalau mau, silahkan email saya ya. :)

Lalu, ada beberapa essay lagi, ini beberapa diantaranya: 

Pin Pengajar Muda VIII

Apa motivasi Anda bergabung menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar?
Menjadi orang terdepan di barisan terdepan suatu perjuangan! Hal itulah yang menjadi tekad saya dalam menjalani kehidupan. Hal itu adalah kombinasi dari pembacan medan, pembacaan potensi diri, kontribusi, dan tentu saja tekad untuk menjadi lebih baik lagi!
Pertama kali mendapat informasi IM ini pada 2010, saya saat itu mendapat informasi lewat link dari teman, akhirnya saya mendownload beberapa video tentang IM dan membuat sebuah playlist dengan judul, “My Dream” dan saya sering mendengarkannya ketika melakukan aktifitas yang menggunakan laptop.
Tekad turun tangan sebagai PM ini semakin bulat pasca megikuti Ekspedisi Astacala 2013. Ketika Ekspedisi sekitar 3minggu di Malaysia, saya tinggal dan hidup bersama TKI, merasakan kerasnya hidup mereka. Mereka kerja disini bukan enak tapi berat, baik dari sisi pekerjaan seperti angkut pasir yang beratnya hampir 60Kg, juga berat meninggalkan orang tua, anak, dan istri dirumah. Ternyata hal itu malah menjadi masalah lain beberapa ada yang melakukan perselingkuhan dengan wanita setempat ada yang berakhir bercerai ada juga yang tidak ketahuan, belum lagi terpengaruh minuman dan judi yang tidak mereka lakukan di Indonesia. Saya menemukan fakta bahwa mayoritas TKI adalah anak daerah yang awalnya tidak mengetahui hingar bingar perkotaan, disitu saya berfikir bahwa anak-anak daerah harus melakukan lompatan-lompatan kehidupan dengan jalur melaksanakan tahapan pendidikan agar hidupnya lebih sukses dan bermakna di negara mereka sendiri,sehingga tidak perlu menjadi TKI.

Hal itulah yang mendorong saya untuk mendaftar PM, karena saya ingin membantu adik-adik melakukan lompatan-lompatan kehidupan dengan cara mengajar.

Mengajar memang telah memiliki tempat tersendiri dalam hidup saya, selain karena background kuat keluarga saya tapi pengalaman pribadi yang telah membentuk seperti sekarang ini karena mengajar, mengajar telah memberikan saya tekad untuk terus berusaha menjadi lebih baik! Saya juga ingin menularkan semangat ini, semangat untuk mengajar dan berbagi kepada orang lain! Dan saya yakin bahwa di setiap senyum tambahan ilmu adik-adik itu ada pahala yang akan terus mengalir.

Dalam kehidupan kita ada hal yang menjadi pemberian dan ada pula yang pilihan. 

Dilahirkan di keluarga yang tinggal di desa-desa terpencil adalah Pemberian Tuhan, tapi bagaimana mereka hidup setelah itu adalah suatu pilihan. Saya ingin turut membantu adik-adik dalam melewati keterbatasan mereka seperti biaya, keberanian bermimpi untuk berpendidikan tinggi, pergi ke luar negeri, dan berbagai keterbatasan lain hingga pada akhirnya mereka bisa melakukan lompatan-lompatan kehidupan melalui jalur Pendidikan, dengan cara Mengajar.
Sekali dapat melakukan lompatan kehidupan, hal ini akan banyak menginpirasi mereka untuk melakukan lompatan kehidupan yang lain. Kemampuan mereka dalam melakukan lompatan kehidupan akan berdampak bukan hanya pada diri mereka sendiri, tetapi juga pada orang tua, guru, masyarakat setempat, Dinas Pendidikan, dan bahkan saudara-saudara diluar sana yang jauh lebih beruntung dari mereka, hal itu akan menjadi pesan optimisme Negeri ini, bahwa saat ini sedang banyak anak-anak negeri yang sedang berproses dan siap memberikan kejayaan pada Bangsa ini! Dan ketika mereka berhasil melakukan lompatan itu, hal itu akan memberikan kebahagiaan bagi saya, kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Selain mentransfer semangat mengajar dan membantu adik-adik dalam melakukan lompatan kehidupan, hal yang juga sangat memotivasi saya untuk mendaftar Pengajar Muda adalah kesempatan belajar tentang banyak hal dan hal ini juga akan menunjang tekad saya untuk menjadi Pengusaha dan pemegang kebijakan.
IM sejatinya memiliki dua track utama, pertama mengisi kekurangan guru SD yang selama ini memang sangat kurang dan kedua adalah mempersiapkan future leaders yang memiliki world class competence and grass root understanding.
Dengan target perubahan yang jelas dan manajerial yang baik, hal ini semakin memaksimalkan proses belajar para PM. Belajar tentang kepemimpinan menghadapi dan mendampingi anak-anak, belajar tentang tatanan, budaya, dan struktur masyarakat, belajar untuk melakukan perubahan di masyarakat. Adalah suatu penghormatan bagi saya apabila diberikan kesempatan belajar tentang berbagai hal ini lewat Indonesia Mengajar.


Ceritakan pengalaman anda ketika berusaha mencapai kesepakatan dalam situasi yang sulit di organisasi/pekerjaan.
Selain mencapai kesepakatan sulit ketika mendaftar PM, ada cerita tentang kronologis Deklarasi Norma Kehidupan Bermasyarakat di lingkungan Yayasan Pendidikan Telkom (YPT).
YPT adalah yayasan pendidikan dibawah PT Telkom yang membawahi empat kampus, IT Telkom, IM Telkom, Politeknik Telkom,dan STISI Telkom. Cerita itu berawal dari kebijakan baru YPT pertengahan 2009 untuk menempatkan seluruh kampus ke Dayeuhkolot. ITT sudah di Dayeuhkolot sejak 1993, Politeknik berdiri pada 2008 di Dayeuhkolot, dan IMT angkatan baru 2010 sudah di Dayeuhkolot, STISI Telkom belum ada kabar akan pindah.
Permasalahan sosial mulai muncul, budaya kampus yang berbeda memberikan dampak pada perubahan budaya masyarakat setempat terutama anak kecil dan remaja. Makin marak pencurian laptop, kosan campur laki-laki dan perempuan semakin banyak, tengah malam banyak terdengar kebisingan dari candaan atau suara musik mahasiswa, dan berujung pada Ketua RW dan aparatnya mempergoki pasangan mahasiswa yang (mohon maaf) sedang telanjang dikamar.
Menurut saya, yang saat itu menjabat menteri Pengabdian Masyarakat BEM 2010,dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung dan ketika budaya setempat tergeser maka senyatanya hal itu adalah sebuah masalah. Sehingga perlu dibuat aturan untuk menciptakan kehidupan sosial bermasyarakat yang damai, santun,tertib,aman,dan nyaman.
Maret 2010,saya mengadakan Silaturahim dan Forum Diskusi untuk membuat peraturan kosan yang mempertemukan mahasiswa&UKM se-ITTelkom, ketua RT/RW dan rektorat. Ternyata beberapa mahasiswa umum dan pengurus BEM diluar kementrian PengMasy mempertanyakan peraturan ini terutama jam malam. Saya menyayangkan sikap pengurus, karena ketika pemaparan Program Kerja (proker) sudah disampaikan rencana kegiatan ini. Saat itu, BEM berada di posisi sulit, disatu sisi muncul tekanan dari mahasiswa dan disisi lain muncul tekanan dari masyarakat untuk segera mengesahkan peraturan.
Pertemuan selesai, belum satunya suara membuat pertemuan deadlock. Saat itu Presiden Mahasiswa menyerahkan ke saya tentang apa yang akan dilakukan selanjutnya. Bagi saya, pantang mundur hanya karena tekanan, kami berusaha menuntaskan apa yang sudah dimulai.
Keesokan harinya, saya dan staf mengevaluasi pertemuan semalam. Kami berkesimpulan bahwa perlu ada diskusi berlevel dan terpisah agar lebih mudah mencapai kesepakatan, setelah semua sepakat barulah dilakukan penandatangan deklarasi. Satu hal yang penting adalah kami tidak dapat bekerja sendirian tapi perlu mengajak stakeholder untuk bersama-sama menyelesaikan ini.
BEM 2010 baru berjalan 2 bulan, masih banyak mimpi kami yang belum terwujud. Saya meminta rekan-rekan untuk tetap fokus pada proker lain sesuai PJ-nya, perturan kosan ini biarkan menjadi tanggung jawab saya.
Saya membuat jadwal diskusi level BEM,KBM,dan Institusi, setelah itu barulah ke BEM kampus lain. Dikusi level BEM awalnya dikira akan muncul konfik ternyata lancar. Sebelum diskusi KBM, kami membuat propaganda tentang kondisi sekitar kampus dan urgensi peraturan . Diskusi level KBM dilakukan dan alhamdulillah lancar, diskusi institusi juga berjalan lancar,bahkan WaRek I membantu memperbaiki redaksionalnya dan menjanjikan akan menyelenggarakan pertemuan untuk mendeklarasikannya.
Saya berkunjung ke BEM Politeknik, mereka juga sepakat. Saya ke BEM IMT, diskusi cukup alot, perbedaan budaya kampus manajemen dengan teknik membuat mereka banyak mempertanyakan hal ini terutama jam malam, terkait poin lain seperti keamanan mereka sepakat. Tetap deadlock, saya meminta bertemu PresMa IMT,dia lebih bisa mengerti,Alhamdulillah BEM 3kampus telah sepakat.
Setelah semua sepakat, saya mengatakan ke institusi dan sesuai janji mereka, pertemuan antara 3BEM, 3Kepala Desa, 3Rektorat, YPT, dan Ketua RW untuk penandatanganan akan diadakan dan undangannya ditandatangani langsung oleh Rektor ITT. Norma Kehidupan Masyarakat telah resmi dideklarasikan pada 26 November’10. Masa kepengurusan saya di BEM berakhir, saya berusaha mentransfer informasi kepada menteri yang baru tentang Norma ini dan beberapa rencana menegakkannya. Sosialisasi telah dilakukan dengan cara menempelkan Norma di banyak kosan sekitar kampus. Tapi sayang perbedaan fokus isu kementrian ditiap tahunnya membuat penegakan ini kurang berjalan. Tapi paling tidak, dengan ditempelnya Norma itu semua mahasiswa sekitar kampus tahu mana yang melanggar dan tidak. Saya masih sangat berharap suatu saat nanti kondisi sekitar kampus menjadi kondusif dan nyaman.Amin

Ceritakan kekecewaan terbesar anda dan bagaimana anda mengelolanya.
Pengalaman itu terjadi ketika saya baru saja menjadi seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP), masa labil bagi saya, masa menemukan identitas diri, masa belum bisa memilah mana yang baik dan buruk? Saya awalnya bersekolah di Sekolah Dasar (SD) pinggiran kota, saat SMP saya bersekolah di sekolah tengah kota. Saya berada di kelas yang banyak anak nakalnya. Hal ini berdampak pada psikologis saya, saya menjadi anak SMP yang berusaha keren, merasa dewasa,dan merasa gaul.
Saya duduk di barisan pojok bersama kawan-kawan yang setipe, saat itu sama-sama nakal. Saya datang di pagi hari dan berada di pojok sekolah untuk merokok, beberapa kali membolos dengan cara naik pagar. Di tahun baru saya bersama kawan-kawan pergi nonton konser dan sebelum pergi kesana rekan-rekan saya minum-minuman keras terlebih dahulu, tapi saya tidak mau minum dan hanya merokok. Saya juga berkelahi di sekolah, kawan saya biasa mengistilahkan “senggol bacok!” Saat memiliki adik kelas, saya biasa memintai mereka uang. Dan yang menurut saya paling parah adalah saat itu saya sering melecehkan wanita (mohon maaf tidak bisa disebutkan).
Saya melakukan semua itu selama satu setengah tahun, beruntung saya masih naik kelas. Hal ini tentu saja berdampak pada nilai raport, saya yang ketika SD berprestasi tiba-tiba nilai SMP sangat jatuh sejatuh-jatuhnya. Pasca menerima raport semester3, saya sangat kaget menerima itu semua. Orang tua saya yang berlatar belakang pendidikan ternyata tidak menegur saya tapi juga tidak mengatakan apa-apa, sikap itulah yang semakin menyayat hati saya.
Kakak pertama baru saja menyelesaikan sarjananya dan sedang dirumah, kakak sayalah yang mencoba mengajak bicara pelan-pelan. Beliau bertanya tentang alasan hal ini terjadi, saya diam dan kakak saya memotivasi saya dengan mengatakan “Ayo dek! Kamu gak pengen nyenengin orang tua?” Hal itu terus terngiang-ngiang di otak saya, dan saat itu saya bertekad untuk ingin terus membahagiakan dan membanggakan kedua orang tua.
Saya memulai langkah pertama perbaikan dengan memasang target “Masuk 10 besar di kelas pada semester depan!”
Saya mulai membiasakan untuk belajar, mulai rajin sholat, mulai meninggalkan rokok, dan ikatan dengan kawan-kawan awal SMP juga sedikit saya renggangkan dan mencoba menjalin persahabatan dengan kawan yang lain. Sering saya mendapat ajakan kawan, “Tur, ayo ke Bu Bas (tempat biasa merokok)” saya mengatakan, “Duluan saja!” Ketika Ujian Akhir Sekolah (UAS) di semester 4 saya sudah tidak mau menyontek dan ingin menggapai 10 besar itu dengan usaha sendiri! Beberapa hari menjelang pembagian raport, saya merasa khawatir tidak bisa meraihnya. Selesai sholat Ashar, saya berdo’a dan tiba-tiba meneteskan air mata, itulah pertama kali saya meneteskan air mata ketika berdo’a.
Hari penerimaan raport tiba, saya menunggu dengan cemas, setelah dikasih tahu, ternyata saya mendapatkan rangking 10 di kelas. Betapa bersyukurnya saya saat itu, karena telah berhasil mendapatkan apa yang diimpikan.
Dengan tekad ingin terus membahagiakan dan membanggakan kedua orang tua, saya masih terus berusaha melakukan yang terbaik, terus berporses menjadi lebih baik lagi.
Akhirnya saat Sekolah Menengah Atas (SMA) saya mengusahakan untuk masuk di Kelas Unggulan agar tidak dikenakan biaya sekolah, dan alhamdulillah saya masuk di kelas itu selama 3tahun.
Hal baik itu terus berlanjut hingga kuliah, saya masih terus berproses melakukan berbagai hal hingga pada akhirnya melihat keluarga saya belum pernah ada yang keluar negeri, maka saya bertekad untuk Go International pada 2013! Dan Alhamdulillah dengan dana sponsor bukan dana orang tua, saya berhasil mengikuti konferensi Mahasiswa Internasional di Jerman.
Saat lebaran 2013 ini, ibu dengan bangga mengatakan kepada saudara yang datang bahwa anaknya baru saja dari Jerman. Saya hampir tidak bisa menahan air mata saat mendengar itu.
Saat itu saya memahami bahwa masa-masa hidup yang sulit akan merubah kita sedikit demi sedikit, ketika konsisten pada perubahan itu, kita akan menemukan bahwa semua akan Indah pada saatnya!



Selain ini, juga ada beberapa essay yang harus dilengkapi, jika tertarik, hubungi via email atau twitter saja ya. Saya juga membuat video profil saya untuk menambah gambaran tentang diri saya.
Semoga bermanfaat. ;)