Jumat, 17 Desember 2010

Baleendah dan Dayeuhkolot Kembali Tergenang

Baleendah dan Dayeuhkolot Kembali Tergenang
Musim hujan telah tiba, hampir setiap hari hujan terus membasahi bumi Paris Van Java ini. Sampai air di sungai Cienteung dan sungai citarum sudah tidak mampu menampung air dan akhirnya meluapkan air tersebut hingga ke jalan-jalan, rumah, dan berbagai tempat di kecamatan Dayeuhkolot dan kecamatan Baleendah. Dilansir dari detik.com tercatat bahwa pada 6 Februari 2010 sebanyak 6.500 rumah yang berasal dari dua kelurahandi kecamatan Baleendah, kabupaten bandung terendambanjir akibat luapan sungai Citarum. Dan pada tanggal yang sama, jumlah sekolah yang terendam ada tiga sekolah dari dua kelurahan, di kelurahan Andir da dua sekolah dan di Kelurahan Baleendah ada satu sekolah. Saat itu pengungsi dari dua kelurahan itu mencapai 1.998 orang dan mereka ditempatkan di 7 titik.
Dan di daerah yang paling dekat kampus kita, Dayeuhkolot juga merasakan hal yang sama, sehingga dibukalah posko banjir di kecamatan dayeuhkolot dan ditutup pada 11 Februari karena air sudah mulai turun. Ternyata dua hari setelah penutupan posko itu, hujan terus turun dan pada 13 Februari 2010 air kembali naik, kali ini air meningkat hingga 40 cm. Sehingga PMI yang bekerjasama dengan rekan-rekan KSR PMI unit IT Telkom kembali membuka posko banjir, tapi kali ini posko tersebut didirikan di PLN Dayeuhkolot. Banjir ini mengakibatkan jumlah pengungsi kembali meningkat, pada 14 Februari 2010, data KSR PMI unit IT Telkom menunjukkan bahwa ada 710 korban yang mengungsi yang terbagi menjadi 9 titik. Yaitu Posko RW14 189 jiwa, masjid hidayatul Islam 101 jiwa, Masjid Al-hilmi RW14 93 jiwa, masjid PLN dayeuhkolot 42 jiwa, Madrasah 10 jiwa, koramil 25 jiwa, kantor kecamatan Dayeuhkolot 35 jiwa, Masjid Argadinata 67 jiwa, Mustofa 148 jiwa.
Bencana itu mulai terjadi sebelum kita melakukan registrasi semester genap, saat kebanyakan dari mahasiswa di kampus kita pulang ke kampung halaman untuk menikmati liburan. Tetapi berbeda dengan yang lain, saat itu dengan sigap teman-teman kita di Korps Sukarela PMI unit IT Telkom(KSR PMI unit IT Telkom) bersama dengan PMI Kebupaten Bandung terjun untuk membantu para korban banjir, mulai dari proses assestment(pendataan) korban dan pendirian Dapur Umum(DU). Mereka seakan lupa dengan masa liburan kulyah. Teman-teman di Dapur Umum memasak dua kali dalam sehari, mulai jam14.00 untuk menediakan makan malam dan jam02.00 untuk menyediakan makan pagi. Sampai 14 Februari 2010, data bantuan yang masuk ke KSR PMI unit IT Telkom berupa tenaga dari teman-teman BEM, SKI, dan beberapa relawan yang membawa nama pribadi dan bantuan berupa uang dari DPM Rp 107.300, HMTI Rp 530.000, NN Rp 500.000, dan data-data tersebut bisa dilihat di depan sekre KSR, karen data di depan sekre tersebut setiap harinya terus diupdate.
Menariknya, teman-teman relawan menyedikan makanan bagi orang-orang yang sesungguhnya tidak mereka kenal. Yang pasti mereka merelakan waktu untuk orang lain. Terutama pada dini hari, ketika kebanyakan kita sedang berselimut dari kedinginan, tapi rekan-rekan relawan sudah stand by di posko untuk memulai masak. Apa yang mereka cari?
“Ketika pertama kali jadi relawan, saya bingung mau membantu apa? Tapi ternyata ketika kita sudah memiliki niat, pasti ada yang bisa kita lakukan, walaupun hanya memasukkan telur ke dalam bungkusan nasi, tapi itu ternyata bisa membuahkan sesuatu yang berguna untuk orang lain, apalagi ketika melihat senyum mereka, seakan semua capek kita tidak ada apa-apanya.” Kata Andri, pengurus BEM 2010 staf Departemen Pengabdian Masyarakat yang dua kali ikut menjadi relawan di posko banjir ini.
Itu adalah salah satu ungkapan seorang relawan yang padahal beliau baru pertama kali turun pada bencana banjir. Ya, kepuasan untuk memberi, kepuasan karena sudah melakukan hal berguna untuk orang lain, dan kepuasan batin, ternyata itulah yang mereka cari. Ternyata, apabila kita mau sedikit peduli, sebenarnya begitu banyak hal yang bisa kita lakukan untuk orang lain sesuai kemampuan kita, yang di Lab mungkin membuat riset untuk masyarakat dan yang di organisasi semakin mengabdikan diri untuk memudahkan langkah orang lain. Mari terus berjuang untuk jadi orang yang berguna untuk orang lain, agar kita bisa terus memberikan manfaat untuk orang lain.
Dan ternyata, pada 15 Februari 2010, banjir meluap hingga di daerah sekitar IT Telkom, data yang masuk sampai pukul 21.40, ada 33 KK di wilayah RT04 RW15 yang menjadi korban, dan sebelumnya pada pukul 21.30, teman-teman BEM, KSR, dan Astacala mengadakan pertemuan tentang Tim Tanggap Bencana, hingga merumuskan beberapa langkah untuk membantu saudara-saudara kita tersebut. Sekarang saatnya kita semua bersinergi dan bergerak untuk membantu saudara-saudara kita!
Terus Berjuang!
Terus Menginspirasi!
Salam Perjuangan Para Pemuda!

Berkelanjutan Versus Insidental



Kegiatan kemasyarakatan adalah suatu kegiatan berbasis masyarakat yang mengutamakan kepedulian untuk sesama bukan keuntungan berupa finansial, yang dikejar adalah sumbangsih untuk masyarakat yang tentu saja secara tidak langsung itu adalah sumbangsih untuk negeri ini. Kegiatan tersebut menekankan bahwa masyarakat menjadi obyek dan pihak yang peduli menjadi subyek. Banyak macam kegiatan yang sudah sering diadakan oleh perseorangan/kelompok yang peduli kepada masyarakat, seperti bakti sosial, pembagian sembako gratis, pengobatan gratis, desa binaan, dan berbagai kegiatan kepedulian lainnya.
Inti dari kegiatan tersebut adalah sama yaitu kepedulian, tapi secara umum kegiatan-kegiatan tersebut bisa dibagi menjadi dua cluster, yaitu kegiatan yang bersifat insidental dan berkelanjutan. Kegiatan insidental adalah suatu kegiatan yang dilakukan dalam jangka waktu pendek dan umumnya kegiatan ini dilakukan dalam kondisi darurat atau kondisi tertentu sehingga kegiatan ini memberikan efek dalam jangka waktu yang cukup pendek. Misal kegiatan pengobatan gratis yang dilakukan hanya sekali waktu. Kegiatan ini banyak dilakukan ketika kondisi yang memang darurat atau kondisi tertentu, misal pasca banjir, pasca gempa, dan kegiatan darurat atau kondisi tertentu lain, dan apabila kegiatan ini dilakukan diluar kondisi tersebut, kegiatan ini agaknya kurang sesuai, karena kegiatan ini memang memberikan efek jangka pendek dan terkesan memanjakan masyarakat sehingga mereka banyak bergantung pada kita tanpa ada kemauan untuk hidup mandiri atas jerih payah mereka sendiri.
Yang kedua adalah kegiatan yang bersifat berkelanjutan, kegiatan ini dilakukan dalam rentang waktu tertentu, kegiatan ini sangat identik dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat, yang hasil dari kegiatan pemberdayaan masyarakat ingin mewujudakn masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Berbeda dengan kegiatan yang bersifat insidental, kegiatan ini memberikan efek jangka panjang karena inti dari kegiatan ini adalah menjadikan masyarakat mandiri dan sejahtera terutama dari segi ekonomi. Kegiatan ini menitik beratkan pada pemberian keterampilan, yang selanjutnya para pelaku pemberdayaan masyarakat akan membimbing masyarakat untuk memanfaatkan keterampilan demi meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat. Kegiatan berkelanjutan ini cukup sesuai untuk mempercepat memajukan bangsa dan bentuk pengabdian kepada masyarakat. Banyak yang sudah mulai konsern pada kegiatan ini, pemerintah dengan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), LSM dengan masyarakat mandiri atau masyarakat madani, mahasiswa banyak yang memberi nama Desa Binaan, dan gerakan peduli masyarkat lainnya yang mungkin memiliki nama yang berbeda tapi intinya sama, untuk masyarakat mandiri dan sejahtera, untuk Indonesia lebih baik!
Mari terus bergerak untuk Indonesia lebih baik!
...Terima kasih...
Menteri Pengabdian Masyarakat
BEM KBM IT TELKOM 2010
*Saya Menyampaikan, Anda Memutuskan! ^_^

Semangat Sumpah Pemuda


Semangat Sumpah Pemuda
81 tahun sudah, Momen 28 Oktober adalah momen yang tepat untuk para pemuda Indonesia, karena itu adalah prestasi besar pemuda zaman itu. Ketika kita berada dalam tekanan para penjajah, para pemuda saat itu berusaha untuk membuat suatu gerakan yang satu untuk mempersatukan para pemuda Indonesia, sebuah gerakan yang kembali mengharumkan kaum muda dihadapan masyarakat Indonesia. Gerakan itu telah dimulai ketika kelompok pemuda dari berbagai golongan, suku, agama, aliran politik merasa perlunya sebuah perekat, pemersatu agar bangsa Indonesia semakin solid dan kuat untuk mewujudkan kemerdekaan. Gerakan besar yang menjadi kekuatan peleburan kekuatan pribadi dan golongan yang bersumber dari kesadaran primodialisme etnis menjadi kesadaran kolektif Nasional. Segala persamaan dan perbedaan itu mengkristal dalam arena Kebangsaan yang berbasis Nasionalisme.
Gerakan bersejarah ini awalnya diprakarsai oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia(PPPI), sebuah Organisasi yang beranggotakan pemuda dari hampir seluruh pelosk Indonesia, yang kemudian terealisasikan dalam Kongres Pemuda II. Diselenggarakan rapat akbar para pemuda yang dihadiri oleh wakil-wakil organisasi pemuda, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Cellebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan lain-lain. Mereka berhasil mengekang simbol eynisitas masing-masing dan mengangkat nilai-nilai Nasionalisme yang bisa diterima oleh berbagai pihak. Gerakan besar ini akhirnya membuahkan sebuah makana besar, Sumpah Pemuda yang Berikrar
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Bertumpah Darah Jang Satoe, Tanah Air Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Medjoendjeong Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia
Namun ironisnya, Sumpah Pemuda selama ini hanya menjadi sebuah Seremoni tanpa arti dan rutintas tanpa bekas. Artinya, 28 Oktober hanya dijadikan sebagai hari Upacara romantisme sejarah yang dikenang belaka. Padahal dibalik itu terdapat makna terdalam yang ingin disampaikan oleh leluhur kita, yaitu komtmen untuk berbakti dan berbuat yang terbaik untuk bangsa. Salah satu kegagalan bangsa ini adalah kegagalan mengungkap Makna, padahal dengan menemukan makna, bangsa ini akan mampu menghadapi tantangan apapun di dalam perjalanan hidupnya. Untuk itu perlu dibangun lagi kesadaran dalam memaknai sumpah pemuda.
Meneguhkan kembali semangat Pemuda dalam mempersatukan bangsa. Sumpah pemuda yang telah dimuseumkan di Gedung Kramat 106 tidak akan bermakna manakala pemuda Indonesia bertindak statis atau jalan ditempat. Padahal salah satu tujuan museum yang telah dibangun sejak 1972 adalah untuk memberikan teladanbagi pemuda bahwa keanekaragamn Organisasi Pemuda di Nusantara kala itu tetap bisa disatukan dan dikukuhkan demi kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Generasi Muda adalah penentu arah perjalananbangsa di masa berikutnya. Terlebih mahasiswa, sebagai inti dari Generasi muda, ia mempunyai kelebihan dalam pemikiran ilmiah, semangat muda yang membara, sifat kritis yang menyala, kematangan logika dan kebersihannya dari noda orde di masanya. Mahasiswa adalah motor penggerak utama perubahan. Mahasiswa diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejumudan masyarakat. Harapan besar laak ditumpukan kepada pemuda yang berjuluk Mahasiswa. Ditangan mereka, masa depan bangsa ini dititpkan. Di tangan mereka, kunci keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diserahkan. Dan, di pundak mereka, bangsa ini disandarkan.
Namun, kesedihan menyeruak ketika melihat perilaku destruktif, anarkis dan tindakan-tindakan lain yang bertentangan dengan semangat Sumpah Pemuda. Perkelahian pelajar, keterlibatan dalam narkoba dan berbagai tindakan kriminalitas lain mendesakkan keprihatinan kita akan nasib bangsa ini. Jika demikian, kepada siapa lagi nasib bangsa ini dititipkan? Tiba saatnya para pemuda bangkit dari tidur panjang, mengaktualisasikan kembali semangat dan jiwa sumpah pemuda demi masa depan bangsa. Tidak boleh Loyo, tidak boleh ongkang-ongkang, tenang-tenang saja, dan berpangku tangan. Ketiadaan musuh yang bersenjata meriam seharusnya menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan. Saat ini kita sedang dijajah oleh rasa keegoan dan Individualitas kita sendiri, sehingga kita mulai meninggalkan nilai budaya ketimuran yang dulunya disegani oleh bangsa lain. Ya, sekarang telah terjadi Krisis Pergeseran Moral, apabila kita sedikit menelongok ke beberapa tahun lalu, begitu banyak hal yang padahal dulu dianggap begtu tabu, dilarang bahkan dibuat sebagai bahan Pergunjingan saat ini malah dijadikan sebagai sebuah trend yang menurut suatu golongan itu adalah sebuah gaya masa kini, dan kalau kita tidak mengikutinya berarti kita adalah golongan yang Jadul.
Ayo kita kembalikan jati diri bangsa yang berbudi luhur, mengambalikan Nilai-nilai Pancasila sebagai jati diri bangsa, Menorehkan kembali Semangat Sumpah Pemuda untuk Mengembalikan jati Diri Bangsa. Dengan mulai meninggalkan arus Individualitas, ras, suku, Agama, dan kembali pada Cinta Damai Untuk Negeri Tercinta, INDONESIA. Ayo kembali kita gaungkan semangat Kepemudaan kita, JAYA TERUS INDONESIAKU!! Kami akan terus berbakti kepadamu!!
Dari berbagai sumber,
terima kasih pada irhamku.blogspot.com/2007/10/semangat-sumpah-pemuda.html