Kamis, 04 November 2010

Aktivis Dakwah dan Retorika Umat?

Aktivis dakwah, generasi solutif atas berbagai retorika umat kekinian.
Topik: Apakah Kita Aktifis?
Bismillah....
Islam adalah agama kedamaian yang memang mengajarkan kedamaian, tidak hanya itu, Islam adalah menjadi solusi atas segala permasalahan di dunia ini. Tapi kita, masyarakat muslim khususnya di Indonesia dirasa masih belum menunjukkan ciri-ciri bahwa kita adalah solusi atas permasalahan-permasalahan yang muncul di kehidupan masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah masalah pemahaman tentang Islam masih belum bagus, ini tidak terlepas juga disebabkan oleh masyarakat yang diserang dari segala sisi oleh kumpulan orang-orang yang membenci Islam atau bahkan malah menyerang umat Islam, dan serangan-serangan itu sangat lembut dan terkesan lembut sehingga kita menadi tidak terasa dalam menenerima serangan tersebut seperti lewat makanan, film, iklan, media massa,dan itu menjadi sebuah ghazwul fikri atau perang pemikiran. Bagaimana tidak? Karena serangan-serangan tersebut berdampak pada pemahaman Islam, akidah, akhlak dan banyak hal lain. Bahkan, muncul di masyarakat atau mungkin di lingkungan keluarga kita itu orang yang mempelajari Islam dengan rutin malah dibilang teroris mungkin cuma karena tidak bersalaman(bersentuhan) dengan yang bukan mahram, padahal hal itu memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai muslim. Sehingga apakah kita akan bermusuhan dengan orang Islam dan kita malah bergandengan erat dengan orang-orang kafir yang jelas-jelas telah menyerang kita, mengkerdilkan kita, dan berusaha menghancurkan peradaban Islam yang penuh rahmat Allah ini? Tentu saja, jawabannya tidak! Teringat kata-kata Ustadz Rahmat Abdullah, bahwa seperti monyet yang diserang dengan angin kencang, si monyet berpegangan sangat erat, sehingga tidak jatuh, tapi ketika si monyet terkena angin sepoi-sepoi malah jatuh. Itulah gambaran manusia yang terkena cobaan dengan hal-hal yang terkesan condong ke hedon/kesenangan dunia saja.
Ibarat sebuah kata-kata entah apa itu namanya bisa pepatah atau yang lain, bahwa dimana Allah menurunkan sebuah penyakit disaat itu juga Alah menurunkan obatnya. Seperti jaman kaum Nabi Musa as dengan kondisi masyarakat dan umat yang seperti it diturunkanlah obatnya berupa ajaran dari Allah yang diturunkan lewat Nabi Musa as. Sama halnya dengan jaman jahiliyah, sebelum ada Nabi Muhamad SAW dengan jaman ketika beliau sudah ada. Dimana beliau membawa risalah dari Allah azza wa jalla yang diturunkan secara berkala dan keteladanan yang ada pada diri Rasulullah SWT semuanya menjadi obat atas segala penyakit yag muncul di dunia ini, baik penyakit yang muncul di diri, masyarakat, di dunia pemerintahan, yang selaras dengan Islam yang menjadi rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam. Dan akan terus ada orang-orang yang senantiasa menjalankan dan memperjuangkan risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Yang senantiasa berjuang dengan hanya mengharap ridho Allah. Yang senantiasa berjuang agar menjadi generasi-generasi solutif atas masalah umat. Karena tidak ada yang patut menjadi tujuan hidup selain ridho Allah azza wa jalla.
Banyak orang yang tersadar dengan berbagai permasalahan umat dan akhirnya mereka bergerak. Dan saat ini banyak yang mengatakan bahwa mereka adalah generasi solutif atas masalah yang terjadi, mungkin masalah masyarakat merek berjuang agar masyarakat menjadi sehahtera sehingga muncul sebutan bahwa mereka adalah aktivis masyarakat, tokoh masyarakat. Ada juga yang melihat sebuah permasalah di bidang lingkungan dan akhirnya mereka bergerak untuk memperbaiki bidang lingkungan agar mencapai suasana yang nyaman dan menimalisir terjadinya bencana sehingga muncul sebutan bahwa mereka adalah aktivis lingkungan, dan masih banyak sebutan aktivis-aktivis lain untuk orang yang berjuang di bidang tertentu, dimana sebutan itu muncul karena tindakan mereka, perjuangan mereka untuk menegakkan yang hak dan melawan hal yang bersifat bathil. Begitu banyak perjuangan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, tapi manakah yang benar-benar sesuai dengan hakikat kita sebagai muslim yang kita ikrarkan ketika kita mengucap syahadat? Dialah pejuang-pejuang Islam yang senantiasa berjuang menegakkan syariat, Aktivis Dakwah, tidak bosan-bosan saya mengatkan bahwa dia berjuang, hanya mengharap ridho Allah. Jadi segala aktifitas kita adalah dakwah, segala hal yang kita lakukan harus berorientasi dakwah, aktifitas di bidang lingkungan, masyarakat, politik pemerintahan,dan aktifitas lain dimana aktifitas itu untuk melakukan perbaikan umat baik dari aqidah, akhlak, dan sistem yang sesuai syariat Islam. Tapi sebelum melakukan perbaikan pada orang lain, tentu saja dimulai dari perubahan pada diri kita sendri, daripada nanti malah kena “kaburo maktan ‘indawAllahi....(Q.S. Ash-shaff; 3).”
Lalu, siapakah aktivis dakwah itu? Yang katanya berjuang hanya mengharap ridho Allah untuk peradaban Islam, apakah dia(semua orang) yang ikut tarbiyah? Atau dia yang ikut menjadi bagian dari LSM atau keluarga besar gerakan Ikhwanul Muslimin (agaknya kata ini lebih tepat)? Seperti sudah diungkapkan di atas bahwa segala aktifitas kita adalah dakwah, maka sekarang muncullah begitu banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik di bidang masyarakat, lingkungan, bencana, ekonomi, politik seperti Rumah Zakat, PKPU, Dompet Dhuafa, Satu Untuk Jabar, Aksi Cepat Tanggap(ACT), KOMPPI dan masih banyak lainnya. Bagi saya, seorang aktivis dakwah adalah dia yang mau memperjuangkan agama ini dengan sekuat tenaga, dengan ikhlas, tiada sekutu selain Allah. Dia yang akan terlebih dahulu memperbaiki diri lalu memperbaiki orang lain, bukan dengn menghancurkan dan mengganti yang baru tetapi memperbaiki yang sedang rusak. Ibarat komputer rusak, apakah kita akan membuang komputer tersebut dan mengganti komputer tersebut dengan yang baru? Tentu saja tidak, kita malah akan memperbaiki komputer tersebut dengan melihat segi prioritas, komputer mana yang lebih cepat untuk diperbaiki itulah yang akan kita perbaiki terlebih dahulu lalu disusul dengan komputer yang lain. Dialah aktivis dakwah sejati.
Bagi saya ada hal utama yang harus ada di dalam diri para aktivis dakwah, adalah memiliki kekuatan azam kuat untuk berubah dan berjuang. Begitu banyak orang yang berjuang demi negara, lingkungan, demi masyarakat dengan segala kekuatan fisik dan harta bahkan mereka siap berjaga malam tidak tidur (banyaknya ketika bencana alam) untuk berjuang. Itu baru memperjuangkan sebagian hal yang ada dalam perjangan Islam, apalagi kita yang berjuang untuk memperjuangkan agama ini? Maka perjuangan kita harus lebih dari itu semua. Dalam perjuangan itu dituntut keistiqomahan, keikhlasan, dan militansi yang kuat. Karena tanpa hal itu, mungkin kita hanya menjadi kader taklimatan atau aktivis taklimatan, yang berjalan hanya ketika ada taklimat dari murabbi, kalau bukan taklimat tidak mau bergerak, wah kalo udah kayak gini kan berabe, khawatir malah kurang ikhlas, padahal ketika kita sudah berazam kuat maka di depan akan kelihatan ternyata banyak jalan untuk mewujudkan hal itu bahkan mungkin jalan yang orang mengatakan tidak mungkin bisa saja jadi mungkin. Dengan kekuatan azam dan militansi kuat, maka siapapun akan siap dan semakin dan bahkan terus mantab dalam mengarungi jalan samudera dakwah ini, sebuah jalan yang hanya sedikit orangnya, yang penuh dengan tantangan, rintangan, cobaan, fitnah, dan cacian. Seperti yang bisa kita lihat di medan dakwah terdekat kita, kampus, muncul begitu banyak fitnah, cacian, dan hal negatif lain, mulai dari pemilu raya yang pihak-pihak tertentu memfitnah dengan mengatakan bahwa kampus ini hanya dikuasai oleh aktifis masjid, jadi semuanya dikendalikan terserah mereka dan malah tidak mengayomi golongan lain, atau mungkin yang mengatakan bahwa mentoring adalah prosesn perekrutan kader salah satu partai politik, dan banyak fitnah-fitnah yang lain. Bila kita tidak punya azzam yang kuat, maka bisa saja kita tertekan dan akhirnya menyerah dengan keadaan yang ada, padahal amanah dan hal yang harus kita lakukan lebih banyak dan lebih besar daripada hanya memikirkan fitnah-fitnah yang belum tentu kebenarannya itu, bukannya kita lebih baik memikirkan dan melakukan hal yang memang harus kita lakukan dan cukup menjadikan fitnah itu sebagai instrospeksi diri tanpa terlalu menanggapi fitnah itu.

Oleh:
Muhammad Catur Saifudin
Institut Teknologi Telkom
Bandung, 4 November 2010

Kamis, 22 April 2010

Negeri, Kita, dan Masyarakat

Sudah lebih dari 64 tahun Indonesia merdeka, negeri ini telah mengalami perjalanan panjang, sebuah perjalanan penuh cuka cita perjuangan. Diawali dengan Orde Lama (1945-1966) yang dipimpin oleh Soekarno, digantikan oleh Soeharto dengan rezim Orde Barunya (1966-1998), kemudian Soeharto ditumbangkan oleh keberanian dan keprihatinan para Pemuda 1998 pada kondisi negeri, setelah tumbangnya orde baru, lalu digantikan oleh era reformasi hingga saat ini. Begitu banyak lika-liku perjalanan bangsa ini sejak dideklarasikan kemerdekaan hingga saat ini, ada zaman ketika kita disebut sebagai Macan Asia, hingga ada saat kita mendapat peringkat ketiga dalam hal korupsi.
Semakin tua usia negeri ini, ternyata kasus dan permasalahan yang menimpa negeri ini juga semakin kompleks. Dilansir dari buku “Mengubah Dunia Kekuatan Gagasan Baru Wirausahawan Sosial”, saat ini kita sering melihat baik di lacar kaca ataupun di media informasi lainnya, bahwa di Bandar Udara Soekarno-Hatta, puluhan ribu tenaga kerja Indonesia (TKI) antre berdatangan dari luar negeri dalam keadaan menderita. Banyak dari mereka yang membawa badan terluka akibat siksaan majikan saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Data 2002 yang dihimpun Konsorsium Pembela Buruh Migran Indonesia (KOPBUMI) menunjukkan, beragam penederitaan telah dialami TKI, dari penelantaran (2.478), penipuan (1.685), penyekapan (470), pelecehan seksual (31), pemerkosaan (27), dan bahkan kematian (177). Data Departemen Tenaga Kerja dan Transmirgasi (DEPNAKERTRANS) Januari hingga September 2003 juga menunjukkan hal serupa, sebanyak 27.208 TKI (12,14%) yang kembali melalui terminal 3 Bandar Udara Soekarno-Hatta, mengadu mendapat peralakuan tidak semestinya, dari pemukulan, penyiksaan dengan disiram air panas, cairan kimia atau sejenisnya, penipuan, dan kerja tanpa digaji.
Tahun demi tahun berjalan begitu cepat banyak sekali bencana alam yang terjadi di negara zamrud khatulistiwa ini. Mengutip dari WALHI dalam sebuah berita di ANTARA NEWS, disebutkan bahwa pada tahun 2007 jumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia mencapai 205 kali, dan kemudian pada tahun 2008 mengalami kenaikan bencana alam yang signifikan yaitu 359 kali. Melihat kondisi bencana alam yang semakin intens pada saat ini, seharusnya menjadi sebuah teguran besar bagi negara yang berada di wilayah equator ini untuk kemudian mulai menyadari pengelolaan SDA yang ada. Teguran demi teguran besar terjadi di negara ini, mulai dari tragedi tsunami Aceh Desember 2004 silam yang menewaskan 127.672 nyawa dan meluluhlantakkan daerah pemukiman penduduk dan sebagian besar daratan negeri serambi Mekah tersebut. Hingga terjadinya persitiwa banjir yang tak kunjung reda di wilayah Bandung Selatan, tepatnya di wilayah yang sangat dekat dengan kampus kita, Dayeuhkolot dan Baleendah.
Berbicara tentang budaya, negara Indonesia adalah negara kaya budaya yang tersebar dari sabang sampai merauke, apabila terus direnungi sebenarnya itu adalah salah satu potensi besar negeri ini, bila kita dapat memanfaatkannya dengan baik. Apabila budaya kita dapat terolah dengan profesional, mulai promosi, sarana, prasarana, dan beberapa hal lain, tentu saja tempat-tempat tersebut dapat menambah penghasilan tersendiri khususnya untuk penduduk setempat. Tapi sayang semuanya belum bisa berjalan dengan baik sehingga masih banyak budaya yang belum terekspose, dan konsekuensi yang harus kita terima adalah, saat ini budaya itu lambat laun terlindas dengan budaya negara lain. Karena sebenarnya membuka wawasan ke negara lain itu penting agar kita menjadi manusia kyang kaya wawasan dan tidak menutup diri, tetapi bukan berarti itu semua menjadikan kita lupa dengan budaya kita. Dulu ketika kita kecil kita sering bermain permainan daerah, mungkin kalau di Jawa ada yang namanya gobak sodor, jemblong senget, lesbong lengyu, dan lain-lain, tapi sekarang permainan itu sangan jarang dimainkan karena terlindas oleh permainan lain. Masih sangat lekat pada ingatan kita tentang permasalahan klaim budaya, mulai tari pendet, batik, dan reog. Mungkin hal itu bisa menjadi sebuah peringatan pada kita agar senantiasa mewarisi budaya kita sendiri, karena kalau bukan kita, orang Indonesia yang mewarisi budaya, lalu siapa lagi?
Ketika berbicara hukum dan keamanan, bisa dikatakan bahwa saat ini sudah hampir tidak ada yang namanya kepastian hukum, karena hukum bisa dibeli orang-orang berduit dan dari sini muncul para people power. Dan golongan itu adalah golongan para orang kebal hukum. Sehingga saat ini banak muncul di masyarakat, maling ayam ditangkap, dipukuli, dan dipenjara, tapi para koruptor(people power) masih bisa berkeliaran bebas bahkan pergi ke luar negeri. Yang parah lagi, saat ini kita merasa bingung ketika mengalami kehilangan barang atau mengalami masalah hukum, kita melapor dan tidak melapor pada pihak berwajib seakan sama saja, karena ketika kita melapor ternyata tidak ada tindakan lanjutan. Badan Anti Korupsinyapun dikerdili demi kepentingan golongan semata. Masih sangat hangat tentang kasus tarik ulur Bibit-Chandra, kasus bentrokan di Tanjung Priok, kasus pajak yang melibatkan anggota Ditjen Pajak, Gayus Tambunan.
Ironinya kondisi ini terus menggerogoti bangsa ini bahkan bisa dibilang tumbuh cukup subur, tentu saja kita tidak ingin melihat kondisi ini terus-menerus terjadi, dibutuhkan tindakan estra untuk mengatasi permasalahan negeri yang semakin kompleks ini. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, yang pertama bisa dengan melakukan reformasi birokrasi di berbagai lembaga, khususnya lembaga pemerintah, sehingga dari hal tersebut bisa memunculkan pemimpinan yang jujur dan senantiasa mengabdi untuk kepentingan rakyat bukan atas kepentingan golongan belaka. Tentu saja hal itu bisa menjadi titik erang di awal yang nantinya diharapkan bisa membawa perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik. Tapi ternyata, untuk melakukan proses reformasi birokrasi itu sendiri adalah sebuah hal yang cukup sulit bahkan ada sebuah perkataan cukup ekstrim yang mengatakan bahwa proses reformasi birokrasi itu adalah langkah yang tidak mungkin apabila semua golongan tidak sepenuhnya sadar bahwa mereka membentuk golongan untuk memajukan Indonesia bukan memajukan golongannya belaka, ya walaupun pendapat ini tidak sepenuhnya benar, tapi itulah salah satu pendapat yang diungkapkan oleh suara rakyat karena berdasar emosi dan pengamatannya selama ini melihat perdebatan antar golongan yang didalamnya banyak membahas permasalahan yang kurang substansial yang intinya hanya menjatuhkan antar golongan. Tapi sekali lagi ditekankan bahwa langkah ini bukan berarti tidak mungkin untuk diwujudkan.
Apabila tadi yang pertama melakukan perubahan melalui reformasi birokrasi yang merupakan sebuah pergerakan atas ke bawah (pemerintah ke rakyat), kalau yang kedua dilakukan dengan cara sebuah gerakan bawah ke atas (bottom up), yang gerakan ini dilakukan di level masyarakat. Tujuan gerakan ini adalah berusaha untuk menjadi fasilitator dalam pemberdayakan masyarakat berdasarkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat, di dalam pemberdayaan tersebut kita berusaha mendorong masyarakat untuk memiliki akses yang lebih luas baik dalam menentukan persoalan sampai dengan merumuskan inisiatif tindakan penyelesaiannya dan nantinya diharapkan menjadi sebuah masyarakat mandiri, yang dari satu masyarakat menular ke masyarakat lain dan nantinya akan menjadi Indonesia mandiri, hematnya dari membuat satu komunitas masyarakat mandiri itu bisa semakin mempercepat pembangan bangsa. Banyak sebutan untuk orang yang melakukan perubahan melalui bidang sosial ini, ada yang menyebut wirausahawan sosial, pejuang sosial, dan lain-lain. Gerakan ini dirasa cukup efektif, karena sasaran dari gerakan ini adalah masyarakat secara langsung, ini cocok dengan teori sumber daya manusia yang mengatakan bahwa peningkatan mutu SDM akan menjadi kunci utama dalam pembangunan bangsa, jadi banyaknya penduduk bukanlah menjadi beban suatu bangsa, bila mutunya tinggi, untuk itu pembangunan hakekat manusiawi hendaknya menjadi arah pembangunan dan arah perbaikan mutu sumber daya manusia akan menumbuhkan insiatif dan kewiraswastaan, (Muhadjir 1987:22). Para wirausahawan sosial harus banyak terlahir, karena apabila semakin banyak orang yang peduli dengan pemberdayaan masyarakat maka insyaAllah Indonesia akan semakin cepat menjadi negara yang mandiri. Banyak macamnya dari wirausahawan sosial ini, apabila kita di bidang teknologi, kita setidaknya menghasilkan sebuah teknologi yang berguna untu masyarakat, bila kita berada di pertanian bagaimana caranya kita meningkatkan pertanian negeri untuk kesejahteraan masyarakat yang nantinya akan menjadi sebuah akselerator pembangunan nasional.
Mari terus bergerak untuk Indonesia lebih baik!
...Terima kasih...

Menteri Pengabdian Masyarakat
BEM KBM IT TELKOM 2010
*mohon maaf bila ada kesalahan, terima kasih.

Minggu, 18 April 2010

25 pertanyaan untuk calon suami yang pengen nikah,, harus bisa jawab dengan baik neh!!

25 pertanyaan untuk calon suami yang pengen nikah masuk terutama buat sista2...
agan2 & sista2 yang baik
pernah g terpikir untuk menanyakan hal2 dibawah ini untuk calon suami qta nanti?? cuma sharing pendapat aja
itung2 buat modal seleksi calon suami.... pertanyaanya lebih sulit dari calon bupati loch
serius mode nich???
maybe agan2 cuma akan nanyai berpa penghasilan, hobby atau dimana agan2 bakal tinggal???
pernah tanya yang lebih dalem lagi g gan??
ini ada 25 pertanyaan untuk calon suami ku kelak....
silahkan nyimak dulu dech....
25 pertanyaan untuk calon suami
1. Bagaimana anda pertama kali mengenal Allah? Tolong ceritakan se detail mungkin
2. Kapan pertama kali anda bertaubat yang sungguh-sungguh? Kalau boleh tau kesalahan apa yang anda mintakan ampun kepada Allah waktu itu? Apa yang akan memungkinkan membuat anda terjerumus lagi pada kesalahan itu dimasa yang akan mendatang? (jika dia itu menggap aib yang tak perlu tahu, jangan sekali-kali anda mendesak untuk menjawab. Tunjukkan rasa hormat anda atas pilihan untuk tidak menjawab).
3. Adakah kesalahan kepada Allah yang selalu anda lakukan dan sampai hari ini belum anda mintakan ampun kepada allah? Kalau boleh tahu kesalahan apakah itu?
4. Seberapa sering anda ingkar kepada allah terutama kalau sedang sendirian? Dalam bentuk apa keingkaran anda itu?
5. Tolong ceritakan hubungan anda dengan Allah saat ini?
6. Dalam seminggu terakhir ini, berapa kali anda gagal mengikuti shalat fardhu berjamaah sesudah adzan berkumandang? Kenapa?
7. Dalam seminggu terakhir, berapa kali anda gagal membaca alquran 50 ayat per hari? Kenapa?
8. Dalam seminggu terakhir berapa kali anda gagal sholat tahajjud?
9. Dalam seminggu terakhir berapa hari yang anda lewatkan tanpa bersadaqah atau berinfaq untuk orang miskin dan sabiillillah?
10. Tolong sebutan 5 langkah pertama dan yang akan anda lakukan secara istiqamah untuk membangun rumah tangga yang taat kepada Allah dan Rasulnya? Kenapa anda memilih kelima langkah itu? Bagaimana cara anda melaksanakannya?
11. Saya mau buka rahasia. Sebenarnya, saya sudah memiliki seorang laki-laki yang sangat saya cintai. Orangnya kalem, pintar, ganteng dan sangat sopan. Hanya kepada dia saya memberikan cinta saya lebih dari kepada laki2 lain. Bersediakah anda mengizinkan saya melanjutkan cinta saya kepada laki-laki ini, kalau anda suami saya? ( biarkan dia salah tingkah dulu mungkin juga dia akan menjawab secara emosional. Perhatikan mimic wajahnya, wajah seperti itulah yang akan anda lihat setiap kali anda bertengkar dan mengingatkan dia dengan ayat allah atau hadisr rasulullah. Setelah anda merekam mimic wajahnya barulah anda katakana…) laki2 itu bernama Muhammad shalllallaahu alaihi wa sallam. Bagaimana caranya supaya saya semakin mencintai beliau, lebih dari saya mencintai suami saya?
12. Apakah rencana anda dalam menghidupkan sunnah nabi Muhammad SAW dalam rumah tangga yang akan anda bangun? Bagaimana anda melaksanakannya?
13. Ada 3 hal yang insyallah akan selalu saya perbaiki dalam diri saya secara sungguh-sungguh sampai saya mati. Ibadah saya, ilmu saya, dan amal shalih saya apa saran anda untuk saya?
14. Tentang ibunda anda, ceritakan sebanyak mungkin hal penting yang menurut anda perlu saya ketahui tentang beliau?
15. Sejak anda dewasa pernakah anda membuat beliau sangat marah? Apa sebabnya? Apa yang anda lakukan setelah itu?
16. Dala seminggu terakhir, berapa kali anda mencium tangannya dan memeluknya dengan mesra? Kalau anda tinggal berbeda kota dengan beliau, berapa kali anda menelponnya dalam seminggu terakhir? Apa kata2 yang paling anda sering anda sampaikan kepada beliau sebelum anda menutup telepon?
17. Jika ibu anda melakukan kesalahan, apa yang anda lakukan untuk mengingatkannya??
18. Menurut anda, adakah hal tertentu dari ibu anda, seperti perkataan ataukah perbuatan yang sangat mempengaruhi cara anda dalam memperlakukan wanita?
19. Jika kelak terjadi pertengkaran atau ketegangan antara ibu dan istri anda, apa yang akan anda lakukan?
20. Tentang ayah anda, ceritakan hal penting yang menurut anda perlu saya ketahui tentang beliau?
21. Apa saja yang menurut anda bisa menghacurkan sebuah hubungan suami istri ? apa rencana anda untuk menghidarinya?
22. Apa saja yang menurut anda bisa menggagalkan sebuah rumah tangga dalam menghasilkan anak2 yang saleh?
23. Tentag mencari nafkah, kalau pendapat ekonomi rumah tangga anda kurang memadai, jenis pekerjaan apa yang sebaiknya dilakukan oleh istri anda untuk membantu mencari nafkah?
24. Ta’adud (menikah lebih dari sati isteri alias poligami) merupakan salah satu aturan allah yang maha sempurna, berikut syarat2nya dan akibat2nya baik untuk laki2 dan perempuan. Apa pandangan anda teantang ta’adud?:kimpoi:
25. Bagaimana mati yang anda inginkan? Apa rencana2 anda untuk itu


Buat sista2 yang pengen nanyain hal tersebut jangan lupa ambil kaca dulu dan tanyakan pada diri sendiri...
buat agan2 yang punya jawabannya tolong di replay yaa...

atau agan2& sista2 punya pertanyaan tambahan.... masih ditunggu loh

jangan lupa bintanggnya yaa....